Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada Semester I 2020 sebesar Rp 257,8 triliun atau sebesar 1,57 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020, APBN 2020 diprediksi akan defisit Rp 1.039,2 triliun atau 6,34 persen PDB untuk keseluruhan tahun.

"Itu sejalan dengan turunnya pendapatan akibat perlambatan ekonomi, sedangkan kinerja tetap dapat tumbuh positif dalam rangka mendukung penanganan Covid-19," ujar Sri Mulyani dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Paruh pertama 2020, pendapatan negara tercatat cuman Rp811,2 triliun. Tumbuh negatif 9,8% dibandingkan semseter I-2019 yang mencapai Rp899,6 triliun. Sedangkan penerimaan perpajakan mencapai Rp624,9 triliun. Atau merosot 9,4% dibandingkan periode sama 2019 sebesar Rp689,9 triliun. Untuk pajak, penerimaannya mencapai Rp531,7 triliun, atau turun 12% dari sebelumnya.Tapi ada kabar baik dari penerimaan sektor pabean dan cukai yang mampu tumbuh 8,8% ketimbang semseter I-2019. Angkanya mencapai Rp93,2 triliun.

Terkait jebloknya setoran pajak, Sri Mulyani membeberkan sejumlah alasan. Yakni perlambatan ekonomi serta pemberian insentif dalam rangka penanganan dan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Sementara potret Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sama buramnya. Terjadi penurunan 11,8% menjadi Rp184,5 triliun pada semester I-2020. Khusus PNBP Sumber Daya Alam (SDA) tercatat Rp54,5 triliun, atau mengalami kelongsoran 22,9%.

Sedangkan PNBP Non-SDA masih lebih baik meski masih buruk yakni Rp130 triliun. Anjlok 6,1% ketimbang semseter I-2019. Adapun penerimaan hibah mencapai Rp1,7 triliun. Dari sisi belanja negara, tercatat pertumbuhan 3,3% ketimbang tahun lalu, menjadi Rp1.068,9 triliun. Komponennya, belanja pemerintah pusat Rp668,5 triliun, tumbuh 6% ketimbang sebelumnya. Untuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa pada enam bulan pertama 2020, mencapai Rp400,4 triliun,  atau turun 0,9% ketimbang periode sama di 2019.