PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) menghitung kehilangan pendapatan hingga sekitar 90 persen sebagai dampak pandemi covid-19 yang memukul industri penerbangan nasional. Pendapatan yang hilang tersebut adalah kehilangan empat momentum peak season.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa pandemi sangat memukul industri penerbangan. Padahal peak season berkontribusi paling besar terhadap pendapatan maskapai pelat merah ini.

“Mudik, umroh, musim haji dan liburan anak sekolah peak season-nya kita hilang. Harapannya tinggal musim peak season akhir tahun,” kata Irfan dalam sesi Webinar, Rabu (8/7) malam.

Selain kehilangan pendapatan hingga 90 persen, sekitar 70 persen pesawat Garuda tidak beroperasi dan hanya terparkir atau grounded di areal landasan pacu.

“Jadinya parkiran penuh. Karena itu kita pindahkan grounded pesawat ke Bandara Kertajati,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi turunnya bisnis, Irfan mengatakan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai langkah efisiensi operasional. Di antaranya, negosiasi ulang harga sewa pesawat dengan pihak lessor. Sebab Garuda menyewa sebagian besar armada pesawatnya.

Selain itu, perusahaan kini mengoptimalkan bisnis kargo. Targetnya, dari divisi ini bisa berkontribusi sekitar 40% terhadap pendapatan hingga akhir tahun. Pemerintah juga sudah merelaksasi aturannya. Misalnya, kini kargo bisa dimuat di atas kabin atau di kursi penumpang. Potensinya, Garuda Indonesia bisa membawa kargo hingga 600 ton per hari.

“Asalkan pesawat tidak membawa penumpang. Satu baris tempat duduk yang terdiri dari tiga tempat duduk dapat dimanfaatkan untuk membawa 220 kg barang,” ujarnya.

Berdasarkan konsensus para ahli, perusahaan memprediksi pemulihan industri penerbangan dari dampak Covid-19 baru akan terjadi pada akhir 2022, berdasarkan konsensus para ahli.

Irfan seperti dikutip katadata.co.id, juga mengungkapkan bahwa hasil riset internal perusahaan menemukan bahwa 60-70% penumpang Garuda masih enggan terbang. Mayoritas alasannya terkait soal keamanan. Itu sebabnya, perusahaan mendorong semua pihak untuk bekerjasama mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Apalagi, lanjut dia, pemerintah juga mulai menggalakkan destinasi pariwisata yang adaptif dengan era kenormalan baru (new normal). Itu berarti, kebangkitan industri pariwisata korelasinya sangat erat dengan industri penerbangan.

“Itu sebabnya kita sosialisasi ini terus, terutama di kanal media sosial. Kita juga setiap hari terus berkordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan juga Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Selain itu, Irfan menambahkan, pihaknya juga terus berkordinasi dengan Kementerian Kesehatan agar syarat penumpang pesawat lebih mudah dan cepat.

“Kita sedang mencari konsep new normal di dalam pesawat seperti apa. Tapi yang jelas prinsipnya harus aman dan nyaman,” katanya.