Milenial dikenal sebagai screen mover atau berpindah-pindah dalam membaca sehingga bisa melompat hingga tiga screen  dalam satu kesempatan. Itu sebabnya, data statistik yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik harus menarik bagi kalangan generasi milenial.

Dalam Workshop Peningkatan Wawasan Statistik Kepada Media yang digelar di Bogor, Jawa Barat, hari ini, peneliti Institute for Developmenet of Economics and Finance Bhima Yudhistira mengatakan  ada beberapa hal yang perlu dihadapi terkait dengan generasi milenial, yang menurut data BPS pada tahun 2018 ini, populasinya di Indonesia mencapai hingga sekitar 90 juta orang.

Sejumlah hal itu adalah kajian yang menunjukkan bahwa rata-rata fokus atensi atau perhatian dari generasi milenial hanya sekitar 12 detik, bahkan untuk generasi Z (pasca milenial) bisa hanya sekitar 8 detik.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pada saat ini banyak orang yang lebih suka membaca secara skimming atau secara cepat sehingga cenderung hanya membaca intisari, bahkan hanya judulnya, bukan keseluruhan isinya.

Untuk itu, jata dia, hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dapat menyajikan data yang menarik bagi kalangan milenial.

"Penting untuk bagaimana menyajikan data yang catchy dan enak dibaca karena milenial tidak suka data informasi yang overload. Bagaimana menampilkan data itu lebih enak untuk dibaca," katanya.

Cara pandang seperti itu penting dilakukan pada saat ini, dimana terjadi banyaknya fenomena disorientasi dan hoax. Sebagian masyarakat hanya memperoleh data dari yang dibagi di dalam platform medsos, dan bukannya menggunakan sumber resmi atau yang berasal seperti dari data pemberitaan jurnalistik.

Untuk BPS, Bhima memberikan masukan agar tampilan laman resmi BPS semakin menarik, seperti adanya tampilan "highlight" terkait infografis atau data utama yang penting dan menarik di halaman depan laman.

Selain itu, peneliti Indef juga mengungkapkan bahwa ada beberapa data yang perlu untuk terus dimutakhirkan secara berkala di laman resmi BPS, seperti data ekspor impor terakhir, data energi, hingga informasi seperti data pangan baru luas lahan sawah.

Bhima juga mengutarakan harapannya agar BPS ke depannya benar-benar menjadi sumber yang paling termutakhirkan dan terpercaya dalam menampilkan berbagai data yang terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berdampak kepada masyarakat luas.

Sedangkan kepada para jurnalis, ia mengemukakan agar para perwarta jangan takut atau malu untuk melakukan pengecekan ulang kepada BPS, terkait berbagai data yang dilontarkan oleh para politisi.

Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan pemimpin Indonesia pada tahun 2045 akan didominasi oleh generasi milenial dan juga generasi Z serta generasi Alpha yang juga harus dipersiapkan untuk kemajuan bangsa.

"Kalau saya ini kan generasi baby boomers, kalau generasi milenial itu generasi yang lahir tahun 1980 sampai 2000. Generasi Z itu yang lahir tahun 2000 sampai 2010, dan generasi Alpha itu lahirnya setelah 2010 sampai sekarang," kata Mahfud saat berbicara dalam seminar Indonesia Emas 2045 di Mata Millennials yang diselenggarakan MMD Initiative di Universitas Al Azhar Indonesia di Jakarta, Rabu (7/11).

Mahfud menyatakan Indonesia sebenarnya mempunyai segalanya untuk maju, mulai dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Oleh karena itu, Indonesia harus dirawat dengan baik.