Bank Dunia menaikkan level Indonesia dari negara berpendapatan menengah ke bawah (Lower middle income country), menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income country). Namun, kenyataannya pengangguran dan kemiskinan meningkat karena corona, membuat naiknya status tersebut tak begitu berarti.

Bank Dunia secara resmi menaikkan kelas Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah ke atas, dari sebelumnya berpendapatan menengah ke bawah.

Lembaga internasional itu menilai Gross National Income (GNI) Indonesia naik. Berdasarkan laman resmi Bank Dunia, GNI per kapita Indonesia naik menjadi 4.050 dolar AS, dari sebelumnya 3.840 dolar AS.

Dengan demikian, kini Indonesia sejajar dengan negara-negara berpendapatan menengah atas lainnya, seperti Thailand, Malaysia, dan China. Adapun GNI per kapita Thailand adalah 7.260 dolar AS, Malaysia 11.200 dolar AS, dan China 10.410 dolar AS.

Presiden Jokowi menanggapi kado Bank Dunia itu dengan menyampaikan penilaian bahwa apa yang dilakukan pemerintah sudah di jalan yang tepat.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani menganggap kenaikan status itu sebagai tahapan strategis dan landasan kokoh menuju Indonesia Maju Tahun 2045.

Sayangnya, kenaikan status yang disematkan Bank Dunia, ini tampaknya tak turut diramaikan masyarakat. Kenyataan pengangguran dan kemiskinan meningkat karena corona, membuat naiknya status tersebut tak begitu berarti.

Kemiskinan dan Angka Pengangguran Akibat Corona

Sebelum mengemukanya kabar soal status ekonomi Indonesia dinaikan oleh Bank Dunia, Kementerian Keuangan seperti dikutip kumparan telah mengeluarkan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang berkisar antara minus 0,4 hingga 1 persen.

Prediksi pertumbuhan yang rendah tersebut juga dibarengi dengan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan. Menurut perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), tingkat kemiskinan tumbuh menjadi 10,63 persen.

Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengungkapkan setidaknya total penduduk miskin diproyeksi bakal meningkat dari 24,79 juta orang menjadi 28,7 juta orang. Berbanding lurus dengan angka kemiskinan, jumlah pengangguran diproyeksikan akan meningkat di kisaran 4,03 juta orang sampai 5,2 juta orang di tahun 2020.

Berdasarkan data BPS per Agustus 2019, jumlah pengangguran terbuka sebanyak 7,05 juta jiwa atau 5,28 persen dari angkatan kerja. Dengan demikian, pengangguran bisa mencapai 12 juta orang atau sekitar 9 persen dari angkatan kerja.