Beberapa ahli pernah menyebut, pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 akan berlangsung cukup lama. Bila COVID-19 usai atau bahkan masih berlangsung, para ahli tersebut juga mengungkapkan dugaan akan ada pandemi lain yang akan terjadi.

Pakar kesehatan publik di Universitas Otago, David Murdoch, mengatakan sangat mungkin dunia akan menghadapi pandemi lainnya dalam beberapa dekate mendatang. 

"Dalam beberapa dekade mendatang, kita akan melihat pandemi lainnya. Kita bisa memprediksi hal itu, sama ketika ada pandemi besar seperti SARS dan Ebola," katanya, dikutip dari The Conversation.

Menurut dia, pandemi terjadi bukan dengan sendirinya. Perubahan lingkungan, gaya hidup masyarakat, serta meningkatnya faktor-faktor lain adalah ‘pencipta’ pandemi itu. 

"Perubahan lingkungan dan sosial pada manusia ikut berkontribusi terhadap perkembangan pandemik,” katanya. 

Pada setiap wabah yang terjadi, negara-negara di dunia berupaya mencari cara pencegahannya. Negara-negara juga saling terlibat kontribusi dalam penemuan obatnya. Dan wabah selalu terjadi pada setiap masa. Maka pada setiap masa itu pulalah negara-negara saling mendukung dalam penanganannya. 

Bagaimana negara tetap bisa saling berpegangan tangan ketika wabah demi wabah datang menghadang, tak bisa lepas dari bagaimana negara tersebut membuat keputusannya.   

"Saat ini perlu perhatian penuh politikus dan pembuat keputusan utama untuk mengubah pola pendekatan pada persiapan internasional dan secara nasional,” ucap Murdoch.

Saat ini semua pihak terlihat bergerak cepat dalam menangani wabah yang tengah berlangsung. Informasi ilmiah tentang virus corona juga berkembang dengan cepat. Penelitian dan penemuan obat serta vaksin juga kerap dilaporkan. 

"Kita juga melihat banyak laporan tes corona, bisa memprediksi kita untuk bisa diterapkan dalam menghadapi pandemik berikutnya,” ujar Murdoch. 

Walau tiap negara memiliki strategi dan langkah masing-masing, pada kenyatannya negara-negara saling terkait dan ‘bersimpati’. Mereka membagikan strategi keberhasilannya untuk diikuti. 

“Kita juga bisa bekerja sama dengan internasional, meskipun setiap negara memiliki strategi sendiri-sendiri,” ungkap Murdoch. 

Para pakar juga bersatu dalam penelitian besar atas nama kemanusiaan. Penerapan pendekatan “One Health” telah mempersatukan para pakar kesehatan. Di tengah pandemi COVID-19, para ahli kesehatan telah bersiap untuk kemungkinan munculnya pandemi lain. Untuk itu mereka membutuhkan kekuatan internasional. Terutama karena pandemi bisa muncul dari mana saja dan apa saja. 

Pakar kesehatan asal Amerika Serikat (AS), Michael Herschel Greger, malah mengungkapkan pandemi berikutnya justru akan muncul dari peternakan unggas. 

"Virus mematikan bisa berasal dari peternakan unggas seperti ayam yang memiliki tempat yang sempit dan saling berdekatan sehingga mudah kontak satu dengan lainnya," kata Greger. 

Ia mengungkapkan, pandemi berikutnya bisa 100 kali lebih parah dibandingkan COVID-19. Dia menyamakan COVID-19 dengan badai kategori dua atau tiga. 

"Virus yang berasal dari unggas bisa berkembang cepat," ujarnya. 

Mengingatkan bahwa pada masa lalu dunia pernah menghadapi wabah flu burung. Greger mengungkapkan, virus flu burung atau H5N1 yang pernah mewabah di Hong Kong pada 1997 berasal dari peternakan unggas. Wabah itu juga pernah terjadi kembali pada 2003 dan 2009. 

"Wabah virus flu burung juga pernah melanda beberapa kali di China, tetapi China berhasil melenyapkannya," katanya. 

Sementara itu, Uni Eropa (UE) sudah menyerukan negara-negara anggotanya mempersiapkan persatuan untuk menghadapi pandemik berikutnya. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel, juga sudah mewanti-wanti agar semua bersiap terhadap kemungkinan itu.

"Perlu adanya pendekatan Eropa yang menyatu untuk menghadapi pandemi lain seperti COVID-19 di masa mendatang," ujar mereka seperti dikutip dari Eurativ.