Sejak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 merebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China akhir tahun lalu, nama dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus pun mulai sering disebut. Wajah unik dan rambut keritingnya pun kerap menghiasi halaman depan surat kabar dan kanal website berita ternama dunia, termasuk di jurnal ilmiah, utamanya yang berubungan dengan kesehatan.

Nama Tedros Adhanom Ghebreyesus semakin sering disebut sejak menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global 12 Maret 2020 lalu. Sebagai orang nomor satu di Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus memang berperan penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dunia.

Lalu, siapa sebenarnya Tedros Adhanom Ghebreyesus? 

Tedros Adhanom Ghebreyesus lahir di Asmara pada 03 Maret 1965 silam. Saat itu, Asmara masih menjadi bagian dari Ethiopia. Pada 1991, kota itu berubah menjadi ibu kota Eritrea, ketika berpisah dari Ethiopia. Besar di negara dengan akses dan sistem kesehatan yang tidak memadai membuatnya paham apa yang harus dilakukan dalam menjalankan tugas di WHO. 

Tedros Adhanom Ghebreyesus meraih PhD bidang Kesehatan Masyarakat dari Universitas Nottingham dan MSc bidang Penyakit Immunologi Infeksi dari Universitas London. Tedros Adhanom Ghebreyesus menjadi anggota Front Pembebasan Rakyat Tigray yang kemudian berhasil menjatuhkan diktator Marxis Ethiopia, Mengistu Haile Mariam tahun 1991.

Keahliannya di bidang malaria membuat Tedros menjadi sosok diperhitungkan pemerintah Ethiopia. Pada tahun 2005, Tedros pun dipilih sebagai menteri kesehatan Ethiopia hingga 2012.

Dia meraih pujian karena melakukan reformasi di sektor kesehatan dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan di Ethiopia. Menurunkan angka HIV/AIDS, campak dan malaria. Inilah yang paling memengaruhinya, yakni kematian adik lelakinya ketika baru berusia 3-4 tahun. Tedros Adhanom Ghebreyesus menduga adiknya meninggal karena campak.

Dia juga memperkenalkan teknologi informasi dan internet dalam sistem kesehatan Ethiopia.

Menurut laporan Time pada 21 November 2019. Tedros membangun sistem pelayanan kesehatan utama yang berfokus pada perempuan. Sekitar 38 ribu pekerja kesehatan komunitas dikerahkan ke seluruh negeri, sehingga mengurangi angka kematian ibu dan anak hingga 60 persen.

Dia kemudian dipercaya sebagai menteri luar negeri dari tahun 2012 hingga 2016. Setahun kemudian, Tedros Adhanom Ghebreyesus memenangkan pemilihan kandidat direktur jenderal WHO. Tedros Adhanom Ghebreyesus tidak luput dari manuver orang-orang yang menolaknya menjadi orang nomor satu di WHO, baik dari dalam negaranya maupun dari luar.

Sekelompok oposisi di Ethiopia menudingnya menutup-nutupi wabah kolera di negaranya yang kemudian dia bantah sambil menuntut balik oposisi itu.

"Mereka tahu selama kampanye mereka kehilangan alasan, mereka harus berusaha dengan upaya terakhir mereka untuk mendiskreditkan saya," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagaimana dilaporkan Time.

Daily Mail, (08/04/2020) melaporkan tentang upaya diplomat China untuk memenangkan Tedros Adhanom Ghebreyesus di WHO. Media Inggris ini melaporkan para diplomat China terlibat dalam melakukan lobi untuk memenangkan Tedros dalam pemilihan direktur jenderal WHO.

Media The Times.co.uk melaporkan para diplomat China telah berkampanye keras untuk orang Ethiopia itu, menggunakan pengaruh uang China dan anggaran untuk membangun dukungan baginya di antara negara-negara berkembang.

Tedros disorot saat berkunjung ke China yang sedang diserang wabah Corona Januari 2020. Tedros Adhanom Ghebreyesus bertemu Presiden Xi Jinping. Tedros memuji langkah China untuk mencegah penularan COVID-19 dengan melakukan lockdown.

Dia juga dikritik karena lamban mengumumkan status pandemi atau wabah COVID-19 sementara puluhan negara sudah kelimpungan menghadapi serangan virus tersebut. Satu hal lagi yang membuat Tedros Adhanom Ghebreyesus menuai kritikan ketika mengusulkan diktator Mozambik, Robert Mugabe sebagai duta kesehatan WHO.

Tedros Adhanom Ghebreyesus dicurigai mau membalas upaya China memenangkannya di WHO. Mugabe merupakan pendukung setia Cina selama ini.

Menariknya lagi, bantuan Cina untuk WHO meningkat siginifikan di masa kepemimpinan Tedros Adhanom Ghebreyesus, yakni dari US$ 2 juta di tahun 2016 menjadi US$ 38 juta di 2019. China pun menyatakan kesiapannya untuk menaikkan kontribusi menjadi US$ 57 juta tahun ini.

Di tengah merebak tudingan kedekatannya dengan China, Tedros mengeluarkan pernyataan terbuka pada awal April lalu bahwa dia menerima ancaman untuk dibunuh dan ejekan rasis.

"Saya dapat mengatakan kepada anda tentang serangan pribadi yang telah terjadi lebih dari dua atau tiga bulan, komentar rasis melecehkan, saya dijuluki hitam atau negro, untuk pertama kali saya membuat pernyataan publik, bahkan ancaman kematian," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagaimana dilaporkan Business Insider, (08/04/2020).

"Saya tidak peduli siapa mengatakan itu tentang saya. Saya mau lebih fokus pada menyelamatkan nyawa. Mari bertarung dengan kuat untuk menekan dan mengendalikan virus itu."

Ancaman rasis untuk membunuhnya muncul ketika WHO menyerukan agar negara di seluruh dunia tidak mempolitisasi wabah COVID-19, khususnya China dan Amerika Serikat.

Tedros Adhanom Ghebreyesus mungkin orang nomor satu di Organisasi Badan Dunia atau WHO yang pertama mendapat serangan bertubi-tubi dari Amerika Serikat saat wabah virus menyerang sedikitnya 190 negara.

Serangan itu tak hanya menyangkut kinerja namun juga integritasnya, hingga ancaman pembunuhan berlatar rasis saat menangani wabah COVID-19.

Pemicu kekisruhan panjang ini ketika Presiden AS Donald Trump menuding WHO kini menjadi China sentris dan berujung dengan memutuskan untuk menghentikan sementara bantuan dana AS untuk WHO hingga rampung pengkajian terhadap kinerja salah satu organ PBB itu.

Andai Tedros Adhanom Ghebreyesus tidak berkunjung ke China bertemu Presiden Xi Jinping saat negara itu berkejaran waktu membasmi wabah virus Corona pada Januari 2020. Andai Tedros tidak memuji keberhasilan China melakukan langkah lockdown yang sempat dikritik para aktivis HAM sebagai pelanggaran HAM dan belakangan diikuti semua negara yang terkena wabah. Andai Tedros bukan dari salah satu negara Afrika yang sarat korupsi dan jauh dari transparansi.

Tedros Adhanom Ghebreyesus merupakan orang Afrika pertama yang menempati jabatan tertinggi sejak 69 tahun WHO berdiri. Sekaligus yang pertama dengan latar belakang akademik bukan dokter.

Dia meraih 133 suara saat pemilihan kandidat direktur jenderal WHO yang beranggotakan 194 negara. Dari 54 negara Afrika anggota WHO, 50 negara memilih Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tedros Adhanom Ghebreyesus terpilih sebagai direktur jenderal WHO tidak lama setelah wabah Ebola yang mengerikan di Afrika Barat. WHO saat itu mendapat kritikan tajam karena dianggap tidak bertindak cepat untuk mencegah penularannya sejak dini.