Media China Global Times mengupas habis kerusuhan yang terjadi di seantero Amerika Serikat, menyusul aksi protes yang dipicu oleh kematian pria Afro-America, George Floyd.

Media Global Times adalah tabloid nasionalis milik Partai Komunis China. Global Time membandingkan kerusuhan di AS dengan gerakan prodemokrasi di Hong Kong tahun lalu.

Beijing memang telah lama dibuat geram oleh kritik yang datang bertubi-tubi dari Barat, terutama Washington DC, atas penanganan protes prodemokrasi yang mengguncang Hong Kong tahun lalu.

Kini, ketika kerusuhan meletus di seluruh Amerika Serikat yang dipicu oleh masalah rasial dan kebrutalan polisi terhadap Floyd, juru bicara Pemerintah dan media negara Tirai Bambu melancarkan serangan balik.

"Ketua DPR AS Nancy Pelosi pernah menyebut protes kekerasan di Hong Kong sebagai ‘pemandangan yang indah untuk dilihat’. Nah, politisi di AS sekarang dapat menikmati pemandangan ini dari jendela mereka sendiri," ungkap Pemimpin Redaksi Global Times, Hu Xijin.

"Seolah-olah para perusuh radikal di Hong Kong entah bagaimana menyelinap ke AS dan menciptakan kekacauan seperti yang mereka lakukan tahun lalu," cetus Xijin, menyindir AS.

China meyakini bahwa ada 'pasukan asing' yang terlibat dalam kekacauan di Hong Kong, tempat para demonstran prodemokrasi—yang digambarkan Beijing sebagai perusuh—telah turun ke jalan dalam jumlah jutaan orang sejak Juni tahun lalu. Para pengunjuk rasa di Hong Kong itu sering bentrok dengan polisi.

Diketahui kebijakan China memicu kemarahan Barat karena rencana memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong.

Para aktivis prodemokrasi dan negara-negara Barat menilai pemberlakuan UU itu sebagai upaya lain China untuk mengikis kebebasan warga di kota bekas jajahan Inggris tersebut.

Selama sepekan ini, publik Amerika Serikat digegerkan dengan tewasnya pria kulit hitam bernama George Floyd di tangan petugas Departemen Kepolisian Minneapolis, Senin (25/5/2020) lalu. Kala itu, pria keturunan Afrika-Amerika itu diborgol dan ditelungkupkan ke tanah oleh polisi.

Floyd tewas setelah seorang polisi (yang kemudian diketahui sebagai Derek Chauvin) menindih lehernya dengan lutut selama lebih dari lima menit. Kematian pria malang itu direkam dalam sebuah video.

Video tersebut beredar di media sosial memicu kemarahan rakyat di penjuru kota, apalagi insiden tersebut berlatar belakang rasial. Demonstrasi pun pecah di Minneapolis, hingga berjung perusakan dan penjarahan. Aksi protes serupa juga terjadi di belasan kota besar lainnya di AS.