Sentimen buram dari relasi Amerika Serikat dengan China menyangkut persoalan Hong Kong tak seburuk perkiraan sebelumnya bagi bursa saham utama Asia.  Laporan terkini menyebutkan, pihak Presiden AS Donald Trump yang bersiap menghukum China atas pemberlakukan perundangan baru untuk wilayah Hong Kong.

Perundangan baru tersebut dipastikan menghapus status demokrasi serta hak azasi manusia di bekas koloni Inggris tersebut.  Langkah pemberian sanksi oleh Trump terhadap pemerintah China sekaligus akan semakin memanaskan ketegangan dua negara dengan perekonomian terbesar dunia itu.

Namun situasi suram tersebut terlihat masih mampu ditepis oleh investor dalam menjalani sesi perdagangan penutupan pekan ini, Jumat (29/5).  Hal ini terlihat dari pola gerak indeks di bursa saham utama Asia yang tak terlalu terpukul.

Laporan menunjukkan, gerak indeks di Asia yang cenderung mixed hingga sesi perdagangan sore ini ditutup. Indeks Nikkei (Jepang) yang melemah tipis 0,18% untuk terhenti di  kisaran 21.877,89,  Indeks Hang Seng turun 0,74% untuk singgah di 22.961,47, sementara indeks ASX 200 (Australia) melorot 1,63% untuk parkir  di 5.755,7, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang naik sangat tipis 0,05%  untuk menetap di 2.029,6.

Sedangkan pada bursa saham Indonesia,   indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu menutup sesi dengan melonjak 0,79% untuk berakhir di 4.753,61.

Laporan lebih  menggembirakan  datang dari pasar valuta, di mana nilai tukar Rupiah akhirnya mampu membukukan penguatan tajam di tengah sentimen suram dari Trump-China. Rupiah terkini diperdagangkan di kisaran Rp14.610 per Dolar AS setelah melambung curam 0,71%.