Setelah sekian lama publik menunggu kinerja Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) dalam memimpin perusahaan BUMN strategis, Pertamina,  situasi nampaknya mulai beralih serius dalam beberapa pekan sesi perdagangan terakhir. 

Seriusnya situasi tersebut tak lain berasal dari pola gerak harga minyak dunia yang kembali membukukan lonjakan curam pada sesi perdagangan Selasa (26/5) kemarin. Laporan menunjukkan, harga minyak jenis WTI yang berakhir di kisaran $34,35 per barel  setelah melambung curam 3,3%.

Lonjkakan gila harga minyak kali ini disebutkan sebagai akibat dari keyakinan pelaku pasar yang semakin tumbuh akan tekad pemangkasan produksi oleh sejumlah negara produsen besar minyak dunia.  Laporan terkait sebelumnya menyebutkan, langkah diplomasi yang sangat efektif pemerintahan Presiden Donald Trump yang berhasil menggiring sejumlah negara produsen terbesar minyak dunia  (terutama dengan negara-negara kawasan Arab dan Rusia), untuk memangkas produksi dengan sekaligus menyelamatkan harga minyak dunia.

Sentimen tersebut semakin kukuh oleh ekspektasi segera pulihnya permintaan minyak dunia menyusul pelonggaran Lockdown di sejumlah negara yang disokong keyakinan bahwa wabah Coronaviru segera teratasi dengan baik.

Situasi menjadi semakin serius ketika melihat tinjauan teknikal terkini,  dengan tren penguatan jangka menengah yang semakin solid akibat gerak naik tajam yang berlanjut.  Tren penguatan jangka menengah yang semakin solid dan kukuh, dengan sendirinya menandakan gerak naik lebih tinggi masih akan menanti di beberapa waktu ke depan.

Situasi ini tentu akan menjadi kabar suram bagi publik Indonesia yang masih terus berharap terjadinya penurunan harga jual BBM.  Kinerja Ahok yang diharapkan publik untuk menurunkan harga BBM kini benar-benar dalam ancaman serius.