Menteri BUMN Erick Thohir kembali melakukan gebrakan. Kali ini dengan kembali ‘memoles’ PT Perkebunan Nusantara III (Persero) sebagai holding BUMN Perkebunan. Caranya dengan merampingkan jumlah direksi anak perusahaan Grup PTPN, dari PTPN I hingga PTPN XIV. 

Hal ini dilakukan Erick sebagai langkah transformasi di tubuh perusahaan perkebunan yang selama ini dinilai masih kurang optimal sebagai penopang ekonomi dan ketahanan pangan nasional.

"Pergantian ini sejalan dengan program transformasi grup perusahaan yang berkomitmen untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan terus melakukan perubahan dalam mencapai target perusahaan sehingga dapat memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional," ujar Direktur Utama PTPN III, Mohammad Abdul Ghani dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5/2020). 

Sesuai penetapan Menteri BUMN Erick Thohir, Muhammad Abdul Ghani menyerahkan langsung Surat Keputusan tentang Pemberhentian, Pengangkatan dan Perubahan Nomenklatur Jajaran Direksi anak perusahaan Grup PTPN kepada jajaran pimpinan baru 13 PTPN pada Selasa (26/5/2020) di kantor pusat holding di Jakarta. 

Dilanjutkan Ghani, guna melaksanakan peran besar yang diamanatkan pada Grup PTPN, perlu dilakukan penguatan organisasi induk dan anak perusahaan serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia. 

Diketahui, mulai tahun 2020 peran Holding Perkebunan Nusantara yang sebelumnya sebagai Strategic Holding berubah menjadi Operational Holding dengan fungsi utama dan perencanaan strategis, termasuk seluruh keputusan terkait investasi (on farm dan off farm), kebijakan komoditas, portofolio bisnis, pengembangan bisnis baru, pemasaran, inisiatif optimalisasi dan divestasi aset, pendanaan dan manajemen kas, serta sumber daya manusia. 

Adapun anak perusahaan difokuskan kepada kegiatan operasional dengan pengawasan dan evaluasi kinerja oleh holding. 

Dengan perubahan itu tersebut, maka setiap anak perusahaan yang tadinya memiliki empat direksi, dipangkas hanya menjadi satu direktur saja. Struktur baru ini bertujuan untuk menciptakan soliditas organisasi yang kuat dalam mencapai tujuan perseroan. Dengan demikian, PTPN Group diharapkan lebih siap menghadapi tantangan bisnis ke depannya. 

Restrukturisasi ini sangat krusial dilakukan mengingat besarnya peran PTPN Group terhadap perekonomian nasional. Saat ini, PTPN Group secara konsolidasian merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar di dunia berdasarkan total lahan konsesi perkebunan seluas 1,17 juta hektare. 

Produk komoditas PTPN Group mencakup komoditas anak perusahaan yang beragam terdiversifikasi, antara lain kelapa sawit, tebu, karet, teh, kopi, tembakau, dan kakao, serta produk hilirnya masing-masing. 

Berdasarkan data per 31 Maret 2020, areal tanaman PTPN III (Persero) dan anak perusahaan didominasi oleh tanaman kelapa sawit seluas 593.935 hektare, tanaman karet seluas 146.345 hektare, tanaman tebu seluas 62.583 hektare, serta areal teh 30.512 hektare. 

Ghani menjelaskan transformasi bisnis ini merupakan serangkaian tahapan yang telah dilakukan sejak holding berdiri pada 2014, namun belum menunjukkan hasil yang optimal, baik dari sisi kinerja operasional maupun keuangan. 

Karenanya, PTPN III (Persero) sebagai Holding Perkebunan Nusantara yang merupakan induk usaha PTPN I, II, IV s/d XIV, telah menetapkan enam program prioritas dalam transformasi bisnis, yaitu Operational Excellence, Restrukturisasi Organisasi dan SDM, Divestasi Aset, Optimalisasi Aset dan Kemitraan, Restrukturisasi Utang, serta Restrukturisasi Perusahaan. 

"Jadi, nantinya holding memberikan arahan strategis serta melakukan pengawasan dan evaluasi, sedangkan anak perusahaan fokus mengelola kegiatan operasional dalam memproduksi komoditas yang telah ditetapkan holding sehingga hasilnya akan lebih optimal," pungkas Ghani. 

Sebelumnya, Menteri Erick juga sedang mengkaji penggabungan 3 perusahaan BUMN yang bergerak di sektor pangan. Ketiganya adalah Bulog, RNI, dan PTPN. Penggabungan ini dilakukan agar ketersediaan pangan di dalam negeri lebih terkontrol sehingga tidak melulu melakukan impor.

"Sama seperti industri kesehatan, impor juga menjadi masalah krusial di industri pangan, dimana kita masih bergantung pada asing, hal ini perlu direformasi untuk memastikan ketahanan pangan di Indonesia," ujar Erick Thohir saat melakukan sidak ke Komplek Pergudangan Bulog di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020).

Erick menambahkan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan roadmap untuk industri pangan di BUMN. Dengan penggabungan PTPN, Bulog dan RNI dalam klaster pangan akan mendorong terbentuknya rantai industri pangan yang terkonsolidasi di BUMN.

Dikatakan Erick, saat ini BUMN memiliki 130.000 HA tanah di bawah PTPN dan 140.000 lahan yang dimiliki oleh rakyat yang dikelola BUMN yang seharusnya dapat untuk menyeimbangkan kebutuhan 3,5 juta ton gula di Indonesia, yang mana 36 persen diantaranya dipenuhi oleh swasta dan 800.000-900.000 ton dari impor.

"Dengan penggabungan klaster pangan ini, kami yakin BUMN dapat mengurangi impor dan kedepannya bisa mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas tahun 2045,” demikian Erick.