Polemik penggunaan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China seolah tidak ada habisnya. Padahal, jumlah TKA yang bekerja di Indonesia, terutama di pabrik yang terdapat di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), hanyalah sedikit saja. Jumlah mereka sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah pekerja lokal.

"Terkait TKA China, sebenarnya jumlah mereka seperti di Konawe hanya kurang lebih 8 persen dari para pekerja yang ada. Saat ini jumlah TKA juga makin berkurang dengan adanya Politeknik di Morowali,” katanya melalui keterangan tertulis, Rabu (20/5/2020).

Menurut Luhut, pemerintah juga memiliki aturan untuk negara-negara yang mau berinvestasi di Indonesia. Antara lain wajib ramah lingkungan, mendidik tenaga kerja lokal, transfer teknologi, dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam mengolah sumber daya mineral.

“Indonesia saat ini menjadi tujuan investasi nomor empat di dunia dan fokus kita ke green economy untuk mengurangi risiko perubahan iklim," ujar Luhut.

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengaku pemberian izin mendatangkan 500 TKA asal China atas berbagai pertimbangan.

Salah satu alasannya, agar para pekerja lokal terhindar dari pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemenaker melihat ada potensi PHK yang sangat besar apabila perusahaan tak beroperasi lagi.

Diketahui, kedua perusahaan yang akan mempekerjakan 500 TKA China itu adalah PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel di Sulawesi Tenggara. Rencananya TKA ini akan didatangkan pada rentang bulan Juni atau Juli 2020.