Warga negara Indonesia (WNI), yang bekerja atau menetap di luar negeri (Diaspora), membuat program bertajuk 'Diaspora Peduli'.

Program ini merupakan bentuk solidaritas Diaspora terhadap korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan karyawan yang dirumahkan karena pandemi virus Corona.

"Program ini bentuk solidaritas langsung dari Diaspora ke keluarga kena PHK," kata pendiri Jaringan Diaspora Indonesia, Dino Patti Djalal.

Diaspora akan memberi bantuan kepada korban PHK dalam bentuk uang sebesar 50 dolar AS atau setara Rp700 ribu per bulan selama minimal 3 bulan.

"Jadi mereka beri 50 dolar AS per bulan selama minimal tiga bulan, tapi bisa lebih, sampai enam bulan, 12 bulan, tergantung donaturnya," kata Dino.

Dikatakannya, program bantuan tersebut akan dilaksanakan pada pekan ini. Sebenarnya, program tersebut kini telah diluncurkan, namun masih harus menunggu finalisasi pembuatan situs dan data dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker).

Untuk dapat menerima bantuan Diaspora ini, Dino menjelaskan bahwa para korban PHK hanya perlu melakukan pendaftaran ke Kemnaker.

Nantinya, Kemnaker akan mengunggah hasil pendataan ke situs resmi program di www.diasporapeduli.id untuk diakses oleh para donatur Diaspora.

Ini berarti, para korban PHK tidak dapat langsung mengajukan bantuan ke Diaspora Peduli.

Sistem pendaftaran dibuat demikian supaya ada pemerataan penerima bantuan dengan program pemerintah, contohnya adalah program Kartu Pra Kerja yang juga memanfaatkan pendataan dari Kemnaker.

"Jadi tidak bisa orang random (asal) datang ke kami. Mereka harus daftar ke Kemnaker seperti Kartu Prakerja, kami pun tidak bisa langsung kasih tanpa data dari Kementerian," terang Dino.

Nantinya, para donatur akan diberi wewenang penuh untuk menentukan sendiri korban PHK mana yang akan diberi bantuan. Hal ini untuk menghargai donatur sebagai pemilik atau sumber dana bantuan.

"Kadang orang ragu memberikan bantuan karena dananya di-pool di satu tempat lalu didistribusikan, tapi yang memberi tidak tahu ke mana dananya, tidak terkontrol," jelas Dino.

"Maka kami ingin ada transparansi dengan impact yang terukur, 'uang ini bantu si itu, angkanya segini' dan mereka bisa kenal sendiri dengan keluarga yang dibantu," pungkasnya.