Sejumlah anggota Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) mendorong penyelidikan tentang asal dan penanganan pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Menanggapi hal itu, Presiden China, Xi-Jinping, menyatakan mendukung usulan resolusi tersebut dengan syarat harus menunggu sampai pandemi COVID-19 benar-benar sudah bisa dikendalikan.

"Kami sudah berupaya terbuka, transparan dan bertanggung jawab, kami telah memberikan informasi kepada WHO dan negara-negara yang relevan selama beberapa waktu, kami sudah menyampaikan pengurutan DNA virus secepat mungkin, kami sudah berbagi pengalaman tentang cara dan penanganan tanpa imbalan, kami sudah melakukan seluruh kemampuan kami untuk membantu negara yang membutuhkan pertolongan," kata Xi-Jinping dalam pidato di ajang rapat Majelis Kesehatan Dunia melalui telekonferensi, Selasa, (19/05/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Xi-Jinping juga menyampaikan bela sungkawa terhadap para korban COVID-19 sekaligus menyampaikan akan menyumbang US$2 miliar (sekitar Rp29,3 triliun) untuk terkait penanganan pandemi dalam kurun dua tahun.

Resolusi tersebut dimotori oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang menyambut usulan Australia. Meski demikian, resolusi tersebut tidak menyebutkan secara spesifik soal China, tetapi berbunyi permintaan untuk, 'evaluasi secara imparsial, mandiri dan menyeluruh yang dikoordinasi WHO terkait respons dunia terhadap COVID-19'.

Amerika Serikat menuduh China menahan informasi tentang virus COVID-19. China juga sempat murka dengan desakan Australia untuk menyelidiki penanganan virus corona. Pada akhirnya, resolusi ini mendapat dukungan internasional dari negara-negara seperti Australia, India, Selandia Baru, Rusia, Inggris, juga negara anggota Uni Eropa.

Dalam rapat tersebut, Xi-Jinping mengusulkan sejumlah langkah untuk melawan virus corona, meminta WHO tetap memegang kendali koordinasi penanganan pandemi, serta memberikan bantuan lebih besar kepada negara-negara yang terdampak seperti di benua Afrika.

Selain itu, Xi-Jinping juga ingin China dan negara-negara lain bertahap kembali membangun perekonomian dan memperkuat kerjasama internasional.

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, menanggapi soal resolusi tentang penyelidikan COVID-19 tersebut.

"Karena virus corona terus menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka tujuan pengajuan resolusi ini adalah untuk mendukung peran penting WHO dan fokus terhadap kerjasama internasional," kata Zhao dalam jumpa pers di Beijing, Senin (18/05/2020) kemarin.

Zhao menyatakan China menolak interpretasi unilateral terkait resolusi tersebut, dan meyakini mereka harus fokus dalam mengendalikan pandemi virus corona. Dia juga mengatakan sebagian besar negara-negara anggota WHO sepakat saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan penyelidikan tersebut.