Pemerintah menjawab kritik yang dilontarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait kerumunan di Bandara Soekarno-Hatta, yang terjadi pekan lalu.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona (COVID-19), Achmad Yurianto mengatakan, kerumunan terjadi hanya dalam sehari.

"Itu kan hanya kejadian tanggal 14 (Mei), cuma 14 aja setelah itu jadi rapi," ujar Yurianto.

Yurianto mengaku, dirinya telah berulang kali mengecek Bandara Soekarno-Hatta. Ia memastikan tidak ada lagi keramaian.

"Silahkan aja saya sudah cek 4 kali ke sana. Karena nggak mau diatur aja yang awal (tanggal 14 Mei) itu. Sekarang mah sudah (sesuai protokol), lihat aja datang ke bandara," ucapnya.

Sebelumnya, Sekjen MUI Anwar Abbas mempersoalkan sikap pemerintah yang tetap melarang masyarakat berkumpul di masjid.

Anwar mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak tegas terhadap kerumunan yang terjadi di bandara.

"Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid. Tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mal-mal, di bandara, di kantor-kantor dan di pabrik-pabrik serta di tempat-tempat lainnya," kata Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (17/5/2020).

Anwar menilai kebijakan pemerintah mengenai pengecualian perjalanan transportasi di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) ini sebagai sebuah ironi.

Karena, kata Anwar, kebijakan ini bertentangan dengan sikap pemerintah Indonesia yang bersikeras ingin memutus rantai penyebaran virus Corona.

Diketahui, penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) berdesak-desakan saat menunggu giliran untuk mengumpulkan syarakat berpergian pada Kamis (14/5) lalu. Sejumlah foto keramaian di bandara viral di media sosial.