Banyaknya desakan dari elite partai yang ingin meminta jatah di BUMN tidak membuat langkah Menteri BUMN Erick Thohir mundur. Pasalnya, salah satu tugasnya dalam membenahi perusahaan pelat merah adalah dengan menempatkan orang-orang yang memiliki kemampuan dan kredibelitas.

Tidak heran, tugas berat Erick banyak direcoki politikus yang ingin mengobok-obok BUMN. Salah satu yang menjadi incaran adalah jatah kursi komisaris BUMN.

Pakar Hukum Tata Negara yang juga mantan komisaris BUMN, Refly Harun, mengakui bahwa menjabat sebagai Menteri BUMN bukan hal yang mudah. Sebab selain tugasnya yang banyak, juga harus menghadapi politisi yang meminta kursi di BUMN.

“Bro Erick itu pusing ya, apalagi orang-orang yang minta jatah. Untungnya Bro Erick itu keras tipikal orang Sumatera,” kata Refly.

Senada dengan Refly, Sandiaga Uno, sahabat baik Erick Thohir mendengar sendiri curhat orang nomor 1 di Kementerian BUMN itu.

Menurut Sandi, di awal menjabat sebagai orang nomor satu BUMN, Erick banyak dikunjungi politikus untuk meminta jatah posisi di BUMN.

Sandi mengatakan, saat menceritakan hal itu, pendiri Mahaka Group itu mengaku tak suka dengan mereka yang mengklaim paling berkeringat saat memenangkan Jokowi-Maruf saat Pilpres 2019.

Namun, Sandi sangat yakin, Erick bukan tipikal orang mudah menuruti perintah orang lain.

“Dia pernah curhat sih, waktu 2-3 bulan terakhir ini, salah satu yang paling dia enggak suka adalah itu (minta jatah). Semakin dia diteken, semakin dia melawan,” katanya saat ditanya soal politisi minta jatah di BUMN dalam video conference, Selasa (12/5).

Sandi pun berkelakar, Erick merupakan orang Lampung yang memiliki pendirian keras. Oleh karenanya Sandi berpesan kepada politisi agar tak bermain-main dengan Erick.

“Jadi buat teman-teman politik, dia orang Lampung. Saya enggak tahu bagaimana bisa teman-teman politik ini berdansa dengan seorang Erick Thohir,” pungkas Sandi.