PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek Indonesia) menolak desakan banyak kalangan untuk menghapus komisi mitra pengemudi atau sebesar 20 persen. Alasannya, perusahaan yang yang menyandang status decacorn, yang bervaluasi 10 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 142 triliun sedang merugi akibat pandemi corona.

Jadi, sekalipun tetap mengutip 20 persen keringat ojol, manajemen masih dalam kondisi merugi. Padahal, nasib mitra pengemudi lebih mengenaskan di masa pandemi virus corona. Pendapatan mitranya ada yang hilang seluruhnya dan terjadi penurunan 70 persen.

Chief of Public Policy and Government Relations Gojek Indonesia Shinto Nugroho mengatakan pihaknya saat ini belum dapat mengurangi beban mitra pengemudi melalui pengurangan potongan komisi pengemudi. Di sisi lain, pendapatan mitra pengemudinya turun hingga 70 persen ke atas.



"Kalau dari kami sebagaimana sudah disampaikan saat ini di industri ini tak ada yang untung, masih merugi, seluruh jajaran manajemen direksi juga saat pandemi ini tidak ada bonus dan THR, untuk karyawan pada tahun ini tidak ada kenaikan gaji [akibat pandemi]," jelasnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR, Rabu (6/5/2020).

Di sisi lain, dia menjelaskan saat ini dampak pandemi virus corona yang dihadapi seluruh ekosistem Gojek sangat besar. Dia mencontohkan pendapatan untuk layanan Golife dari Go Massage hilang 100 persen karena sesuai aturan pemerintah hadapi pandemi layanan ini mesti ditutup sementara.

Kemudian, dia menyebut penurunan pendapatan mitra aplikator cukup luar biasa besarnya terutama setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terjadi, mitra sektor transportasi yakni ojek online (ojol) dan taksi online (taksol) terkena imbasnya.



Sementara mitra merchant yang urusan makanan penurunan dialami sejak mall ditutup. "Melihat bisnis ini kami bahkan sebenarnya belum profit tidak ada profitnya, tapi kami selalu memperhatikan kesehatan mitra-mitra kami," pungkasnya.