Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) mengumumkan hari paling mematikan di Amerika Serikat (AS) karena Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19, Jumat 1 Mei 2020. Pada hari itu angka kematian karena infeksi COVID-19 tercatat sebanyak 2.909 orang di antara 68 ribu kasus positif.

Berdasarkan data peta sebaran yang dibuat Johns Hopkins University, per Senin malam, (04/05/2020), AS masih menempati posisi pertama pandemi dunia. Total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak lebih dari 1,16 juta. Sedangkan koban meninggal lebih dari 67 ribu orang.

Munculnya angka kematian tertinggi pada Jumat dibarengi dengan ribuan orang yang berduyun-duyun pergi ke pantai dan taman setelah kebijakan penguncian wilayah dilonggarkan. Saat ini ada lebih dari 30 negara bagian di Amerika yang telah melonggarkan karantina meski tetap diminta melakukan pedoman pembatasan sosial (social distancing).

Pemerintah federal AS telah mengatakan bahwa suatu negara bagian harus melihat jumlah total kasus menurun selama 14 hari terlebih dahulu sebelum mencabut penguncian. Namun, yang terjadi, jumlah kasus terkonfirmasi terus meningkat sebanyak ratusan orang setiap harinya.

Di Texas - negara bagian terpadat kedua- data kasus baru Covid-19 dalam lima hari terakhir masih sebanyak 800-1.500. Namun sebanyak 25 persen aktivitas seperti di mal, restoran, bioskop, dan perpustakaan sudah dibuka kembali. 

Sementara di Florida, dilaporkan lebih dari 1.000 kasus baru pada Jumat dan 1.300 pada akhir pekan lalu. Tapi yang terjadi sama, mereka mulai mengendurkan pembatasan-pembatasan sosial mulai Senin. Di New York, di mana penguncian masih diberlakukan sampai 15 Mei, puluhan mayat dilaporkan sampai ditemukan dalam truk yang berada di luar rumah duka.

Protes luas memang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini yang menganggap penguncian wilayah melanggar hukum. Demonstrasi telah terlihat di Michigan, North Carolina, California, Colorado, Delaware, Florida, Illinois, New Jersey, New Mexico, New York, Tennessee, dan Washington.