Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono mengingatkan ide menggeser cuti lebaran idul Fitri ke lebaran Idul Adha sangat berisiko. Pasalnya, belum ada kepastian pandemi Virus terkendali di akhir Juli.

"Saat ini, belum tahu kapan corona akan mereda, belum tahu kapan pelonggaran PSBB. Kurva penyebaran Covid-19 belum melambat juga kan," ujar Pandu, Selasa (5/5).

Karenya, sebaiknya tradisi cuti lebaran dihilangkan untuk tahun ini dan tahun depan demi mengantisipasi faktor risiko penyebaran Virus Corona.

"Kalau perlu tahun ini enggak ada cuti. Tahun depan enggak ada cuti. Tradisi ini kita hilangkan saja karena ada faktor risiko, hidup kita sudah beda enggak seperti dulu. Mungkin kebijakan cuti bersama sudah enggak relevan lagi sekarang atau di masa mendatang," tutur Pandu.

Dia pun meminta Pemerintah untuk lebih memikirkan kebijakan yang lebih prioritas ketimbang mengurus hal-hal seperti cuti.

"[Kebijakan] cuti enggak penting. Jadi jangan memikirkan itu. Cuti kan bisa kapan saja. Memutuskan kebijakan yang perlu dulu sekarang ini," cetusnya.

Sebelumnya, Kepala Staf Presiden Moeldoko mengusulkan opsi cuti lebaran kepada Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas yang digelar Senin (4/5). Yakni, dengan menggabungkan cuti Idul Fitri dengan Idul Adha yang jatuh tanggal 31 Juli.

Padahal, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy sudah memutuskan bahwa cuti Hari Raya Idul Fitri dari yang semula 26-29 Mei 2020 digeser ke 28-31 Desember 2020 demi menekan penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Kebijakan ini menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi dalam rapat Antisipasi Mudik Lebaran pada tanggal 2 April 2020 terkait Imbauan Tidak Mudik dan Penggantian Libur Lebaran tahun 2020.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyebut realisasi dari usul itu bergantung pada kondisi penyebaran virus corona.

"Semakin taat patuh mengikuti protokol kesehatan, semakin kita cepat normal, normal baru pakai masker, jaga jarak, menjalankan protokol kesehatan," ucap Doni.

Sejauh ini, Doni menyebut laju penurunan kasus baru Virus Corona sebesar 11 persen. Per Senin (4/5), kasusnya mencapai 11.587 orang. Total pasien sembuh 1.954 orang dan pasien meninggal sebanyak 864 orang.

Namun demikian, kurva kasus positif Virus Corona secara nasional masih menunjukkan peningkatan. Berbagai ahli global menyebut kasus Corona bisa saja tak berakhir meski vaksin sudah ditemukan.