Penyebab kelangkaan hingga mengakibatkan melonjaknya harga gula sejak Februari 2020 akhirnya terjawab. Ternyata, hal itu terjadi lantaran izin impor yang diajukan Perum Bulog tak kunjung disetujui Kementerian Perdagangan. Padahal, prediksi kelangkaan gula sudah diprediksi Bulog sejak November 2019 menyusul pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) berhenti melakukan proses penggilingan tebu. 

Masalahnya, izin impor yang diajukan Bulog masih terhambat rumitnya birokrasi di Kementerian Perdagangan. "Tapi akhir Maret (2020) baru bisa terealisasikan. Karena begitu sulitnya birokrasi yang kami tempuh," tegas Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso saat menggelar rapat dengar bersama Komisi V DPR RI, Kamis (9/4/2020).

Bahkan ketika harga gula di pasaran masih tinggi, Perum Bulog pada akhir Maret 2020 kemudian memaksa untuk segera dilakukannya impor gula kristal putih (GKP) sebesar 20 ton. Sayangnya, Bulog kembali dipersulit saat berurusan dengan proses birokrasi sehingga tersendatnya kegiatan distribusi gula.

Karenanya, mantan Kabareskrim Mabes Polri ini dengan tegas menampik pihaknya tidak siap dalam mengamankan stok gula nasional. Menurut Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, kelangkaan tersebut terjadi karena pengajuan impor pangan diharuskan melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang dinilai menjadi hambatan bagi percepatan impor pangan, termasuk gula.

"Prediksi kami sudah pasti, prediksi kami bukan sekadar kira-kira," tegas dia.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Guntur S Saragih juga mengakui tingginya harga gula di pasaran disebabkan lambannya penerbitan surat izin impor gula. Ini didapat dari kajian internal yang dilakukan oleh jajarannya terkait mahalnya harga gula.

"Kami menilai seharusnya jumlah kuota impor gula dalam persetujuan impor seyogianya cukup. Sebaiknya pemerintah mengeluarkan izin (impor gula) tersebut lebih awal, karena besaran kebutuhan telah diketahui sejak awal tahun," kata Guntur melalui keterangan tertulis pada Rabu (8/4/2020).