Hari ini, memasuki bulan keempat, ketika dunia dikejutkan dengan kehadiran makhluk -- konon berukuran 400-500 micro -- yang bernama Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Akibat kehadirannya tersebut, seluruh dunia dipaksa bertarung melawan wabah yang oleh Badan Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) sebagai pandemi global, Rabu (11/03/2020).

Lebih dari 200 negara turut berperang melawan virus jenis baru yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China tersebut. Sebagian negara berhasil menang, tapi lebih banyak lagi yang kalah dan kehilangan nyawa ratusan, bahkan ribuan rakyat mereka.

Data yang dikumpulkan Worldometers menunjukkan, hingga Selasa, (07/04/2020), total angka kasus positif COVID-19 di dunia telah mencapai lebih dari 1,3 juta pasien. Lebih dari 75 ribu nyawa melayang akibat terinfeksi virus tersebut. Meski juga terdapat sekitar 293 ribu pasien berhasil sembuh dan memulai lagi kehidupan normal seperti sedia kala.

Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, dan Perancis adalah negara-negara dengan angka kasus positif COVID-19 tertinggi di dunia. Tiga dari negara tersebut, yakni Italia, Spanyol, dan Perancis, memiliki jumlah kematian terbanyak. Tingkat kematian mereka berturut-turut sebesar 12,4 persen, 9,8 persen, dan 9 persen.

Negara kita sempat mencapai tingkat kematian tertinggi sekitar 9,11 persen pada Sabtu, 4 April 2020. Saat ini, berdasar data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Selasa, (07/04/2020) angka tersebut turun menjadi 8 persen. Tapi tetap masih lebih tinggi dibanding angka kematian global sebesar 5,7 persen.

Sebanyak 2.738 kasus terkonfirmasi di Indonesia dengan 221 kasus kematian. Indonesia sudah bersanding dengan tiga negara yang memiliki tingkat kematian tertinggi dunia. Sebagai informasi, tingkat kematian diperoleh dengan menghitung jumlah pasien meninggal dibagi dengan kasus positif, lalu dikali 100 persen.

Berdasarkan data resmi dari Pemerintah Pusat, hingga Kamis, (09/04/2020) masyarakat yang positif terpapar COVID-19 sebanyak 2,956 orang, yang berhasil sembuh 222 orang, dan meninggal dunia sebanyak 240 orang. Sementara catatan dunia, hingga Kamis, (09/04/2020), sebanyak 1,432,577 orang positif terinfeksi COVID-19, 82,195 orang meninggal dunia, dan 301,649 berhasil sembuh.

Khusus di wilayah DKI Jakarta, angka kematian akibat COVID-19 yang terkonfirmasi per Rabu (08/04/2020) baru mencapai 114 orang. Akan tetapi, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman, Provinsi DKI Jakarta, Suzi Marsitawati mengkonfirmasi hingga Senin, (06/03/2020) lalu, pihaknya telah melakukan pengurusan 639 jenazah menggunakan prosedur tetap (protap) COVID-19 di DKI Jakarta. 

"Sampai hari ini, bahwa data yang ada 621 itu adalah sampe jam 8.30 pagi. Dan untuk sampai jam 12.30, korban sudah bertambah lagi menjadi 639," ujar Suzi dalam teleconferenc di akun YouTube Pemprov DKI Jakarta, Senin (06/04/2020).

Lebih jauh Susi menjelaskan, kepada 639 jenazah itu, protap pemulasaraan COVID-19 dilakukan dengan memasukkan jenazah ke kantung jenazah sebelum kemudian dimasukkan dalam peti. Suzi menyatakan tak bisa memastikan ke-639 jenazah tersebut meninggal akibat COVID-19. Sebab kewenangan itu berada di pihak rumah sakit.

Menurutnya, tugas Pemprov DKI Jakarta dalam hal ini hanya memakamkan tanpa mengidentifikasi apakah jenazah merupakan korban yang memiliki status ODP, PDP maupun positif. Semuanya dimakamkan dengan protap jenazah terjangkit COVID-19.

"Jadi, itu yang kami lakukan, jadi kami tidak bisa memilah mana itu COVID-19 atau ODP, karena yang berhak mengatakan itu adalah pihak rumah sakit," katanya.

Secara rinci, Dinas Pertamanan dan Kota DKI Jakarta merilis jumlah jenazah yang dimakamkan sesuai protap COVID-19, sebagai berikut:

Pemakaman Sesuai Protap COVID-19 di DKI Jakarta - Foto Istimewa

Jumat, (20/03/2020) - 37 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Sabtu (21/03/2020) - 47 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Minggu (22/03/2020) - 65 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Senin (23/03/2020) - 87 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Selasa (24/03/2020) - 107 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Rabu (25/03/2020) - 140 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Kamis (26/03/2020) - 175 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Jumat (27/03/2020) - 206 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Sabtu (28/03/2020) - 236 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Minggu (29/03/2020) - 283 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Senin (30/03/2020) - 316 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Selasa (31/03/2020) - 351 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Rabu (01/04/2020) - 398 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Kamis (02/04/2020) - 451 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Jumat (03/04/2020) - 501 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19 
Sabtu (04/04/2020) - 545 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Minggu (05/04/2020) - 593 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19
Senin (06/04/2020) - 639 jenazah dimakamkan sesuai protap COVID-19

Ketua II Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Pemprov DKI Jakarta Catur Laswanto menegaskan bahwa jenazah yang dimakamkan dengan prosedur pasien COVID-19 tidak mesti pasien yang positif terpapar COVID-19. Catur mengatakan dari jumlah 639 yang dikuburkan dengan prosedur khusus COVID-19, ada 126 yang merupakan jenazah pasien COVID-19. Sisanya orang berstatus ODP dan PDP yang ternyata meninggal dunia. Catur mengatakan penguburan tidak boleh lebih dari empat jam setelah kematian. 

"Sesuai protokol kesehatan, ODP dan PDP yang wafat itu juga harus diurus sebagaimana penderita COVID-19, yaitu jenazah harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti,” kata Catur. 

Mengingat jumlah korban meninggal dunia terkait corona COVID-19 semakin banyak, Pemprov DKI Jakarta juga menyoroti pentingnya para pengurus jenazah dan petugas kuburan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) karena mereka sangat mungkin tertular virus corona.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meminta, angka kematian dan pemakaman dengan protap COVID-19 yang dirilis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jangan dipandang sebagai statistik semata. 

"Itu bukan angka statistik, melainkan warga yang bulan lalu sehat, yang bulan lalu bisa berkegiatan, mereka punya istri, punya saudara," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/03/2020) ketika jumlah pemakaman dengan protap COVID-19 mencapai 316.

Anies Baswedan juga menyebut bahwa jumlah jenazah yang ditangani dengan protap COVID-19 lebih besar dari angka resmi kematian akibat virus mematikan tersebut. Menurutnya, perbedaan jumlah bisa terjadi karena pasien yang meninggal belum sempat dilakukan tes atau sudah dites tetapi meninggal sebelum keluar hasilnya.

Anies Baswedan juga meminta masyarakat untuk disiplin untuk menekan penyebaran COVID-19 sambil juga mengatakan situasi Jakarta sangat mengkhawatirkan dalam penyebaran COVID-19. "Ini semua harus kita cegah pertambahannya dengan secara serius, bukan pembatasan. Tinggallah di rumah, disiplin untuk menjaga jarak, lindungi diri, lindungi keluarga, lindungi tetangga, lindungi semua," ujarnya.

Setelah melalui berbagai proses, Anies Baswedan akhirnya berhasil meyakinkan pemerintah untuk menutup seluruh wilayah DKI Jakarta dan penyebaran COVID-19 dengan sistem -- apa yang disebut pemerintah -- Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mulai diberlakukan Jumat, (10/04/2020) besok.