Kritikan terhadap pemerintah RI dalam memerangi pandemi corona tidak hanya datang dari dalam negeri. Pemerintah Jokowi mendapat kritikan keras dari seorang dokter di Negeri Jiran Malaysia.

Kritikan itu menjadi viral di media sosial karena secara blak-blakan membahas kemampuan negeri +62 dalam menangani Virus Corona. Pada wawancara di televisi, Dr. Musa Mohd Nordin meminta pemerintah Malaysia menunjukan teladan dan tegas dalam bertindak.

Rekomendasi pertama yang ia berikan adalah agar pemerintah memberikan teladan terkait jaga jarak. Lalu, ia meminta ada lockdown total untuk lokasi hotspot Virus Corona COVID-19 supaya tak ada oknum yang keluar wilayah.

"Hotspots ini mesti kita lockdown 100 persen dengan Perintah Kawalan Pergerakan yang lebih kuat," ujar Dr. Musa dalam wawancara bersama Astro Aswani, seperti dikutip Senin (6/4/2020).

"Kalau tidak, dia keluar," lanjutnya.



Selain itu, Dr. Musa mengaku resah dengan situasi di Indonesia. Ia bahkan menyebut Indonesia merupakan bom waktu klaster penyebaran Virus Corona jenis baru. 

Alhasil, ia meminta pemerintah Malaysia memperketat perbatasan negara. 

"Saya risau (dengan) Indonesia. Indonesia adalah sebuah bom waktu," ucapnya. "Kita harus kendalikan perbatasan kita. Jika tidak, itu akan menjadi klaster besar COVID-19. Wallahu a'lam (Dan Allah lebih tahu)," kata Dr. Musa. 

Pekan lalu, Kementerian Kesehatan Malaysia mengungkap data bahwa persentase kematian akibat Virus Corona di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia, bahkan nomor dua di dunia setelah Italia. 

Dr. Musa turut meminta ada karantina total bagi pendatang dari luar negeri. Mereka yang baru tiba diminta masuk ke fasilitas khusus dan jangan dibiarkan langsung kembali ke keluarga karena berpotensi membahayakan anggota keluarga lain jika terkena Virus Corona.

"Yang balik dari London, Italia, Iran, kamu harus memastikan mereka ditempatkan di lokasi terpisah, pusat isolasi, rumah sakit sementara, tak boleh balik kepada keluarga mereka. Isolasi dengan keluarga adalah kegagalan besar," ujarnya. 

Kritikan dari Negeri Jiran itu banyak dikaitkan dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan Indonesia tak masuk 10 negera terbanyak pasien positif virus corona. Jokowi menjelaskan data global virus corona harus disampaikan ke publik.

"Berkaitan dengan berita mengenai yang terjadi di negara-negara lain. Ini juga perlu disampaikan kepada publik, agar publik juga memiliki sebuah wawasan. Bahwa sekarang ini sudah 207 negara yang terdampak. Mestinya ada yang menyampaikan, mungkin tidak dari kami," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas yang disiarkan akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (6/4/2020).

Jokowi berpandangan, perlu ada hal yang harus disampaikam sebagai sarana informasi. Misalnya, 10 besar negara-negara yang terdampak virus corona terparah.

"Tapi ini perlu disampaikan mengenai 10 negara dengan kasus tertinggi. Misalnya di Amerika Serikat sekarang sudah 305 ribu, Italia 119 ribu, Spanyol 117 ribu, Jerman 85 ribu, RRT 82 ribu, Prancis 63 ribu, Iran 53 ribu, Inggris 38 ribu, Tukri 20 ribu, dan Swiss 19 ribu," sambungnya.

Jokowi menilai, pemaparan tersebut setidaknya bisa memberi wawasan kalau virus corona tidak hanya terjadi di Indonesia. Meski demikian, Jokowi meminta agar ada pihak lain di luar pemerintah yang menyampaikan itu.

"Yang kita semuanya memiliki gambaran bahwa penyakit ini tidak hanya di Indonesia. Tetapi di 207 negara. Dan kasus-kasusnya tadi disampaikan 10 kasus tertinggi di negara-negara tadi yang disebutkan. Ini mungkin tidak tahu setiap hari atau dua hari harus ada yang menyampaikan, tetapi sekali lagi bukan dari kami," katanya.