Mengawali sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (14/2), gerak indeks di bursa saham utama Asia terlihat mulai berada dalam tekanan jual. Pelaku pasar disebutkan masih tersita perhatiannya pada perkembangan terkini persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus di China.

Laporan juga menyebutkan, investor yang juga sedang menantikan langkah konkret China yang bersiap mulai memangkas tarif masuk produk asal AS hingga tinggal separuhnya untuk barang senilai $75 milyar.

Sentimen positif dari langkah pemangkasan tarif masuk oleh China tersebut akan bergulat dengfan sentimen muram terkini menyangkut jumlah korban tewas dan angka kasus infeksi Coronavirus yang masih jauh dari melambat.

Sementara di sesi perdagangan sebelumnya indeks Wall Street terlihat menyerah di zona merah, sikap pelaku pasar di Asia akhirnya cenderung turut pesimis  dalam membuka sesi penutupan pekan ini.

Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) terlihat runtuh tajam 0,88% untuk menyisir posisi 23.617,05, sementara indeks ASX 200 (Australia) menurun tipis 0,02% untuk menjejak kisaran 7.101,7, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang terpangkas 0,4% untuk berada di 2.224,13.

Dengan bekal sentimen yang jauh dari mengesankan tersebut, prospek kurang menguntungkan pada bursa efek Indonesia  kembali hinggap di sesi perdagangan yang akan dibuka beberapa menit ke depan. Sesi akhir pekan ini, berpeluang untuk menjadi sesi perdagangan Jumat keramat bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk kembali menapak zona koreksi suram setelah dalam beberapa hari sebelumnya telah rontok signifikan secara beruntun.