Meski dibayang-bayangi teror virus corona, pemerintah tetap memutuskan untuk mengimpor bawang putih asal China. Hal ini terpaksa dilakukan guna memenuhi kebutuhan domestik. Saat ini, menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, sebanyak 62 ribu ton bawang putih asal China siap masuk ke Indonesia. 

Bawang putih sebanyak itu hampir 60 persen dari surat izin Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) untuk bawang putih yang diminta Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak 103.000 ton.
"Jadi sekarang yang dinyatakan sudah lengkap kurang lebih 62.000 ton. Segera, pasti ke luar. Sudah beres, sudah lengkap," ujar Oke di Kemenko Perekonomian di Jakarta Kamis (13/2/2020).

Sebelumnya, Kementan telah mengajukan RIPH sebanyak 103.000 ton untuk bawang putih. Namun, Kementan baru bisa menerbitkan surat perizinan impor (SPI) untuk bawang putih sebesar 62 ribu ton, sementara sisanya masih harus memenuhi persyaratan. "Jadi sekarang yang sudah dinyatakan lengkap kurang lebih 62.000 ton. Sisanya akan segera terbit," imbuh dia.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, penerbitan izin impor ini dilakukan karena stok bawang putih di dalam negeri kian menipis, yakni 70 ribu ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sampai pertengahan Maret mendatang.

"Stok kurang lebih 70.000 ton. Jadi sampai bulan Maret itu sebetulnya dari stok masih cukup, tetapi kita sudah buka (impor) untuk mengantisipasi sampai dua-tiga bulan ke depan," kata Prihasto saat ditemui usai Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR di Jakarta dikutip Antara, Senin (10/2/2020).

Prihasto memperkirakan impor bawang putih sebesar 103.000 ton tersebut dapat memenuhi kebutuhan sampai 2-3 bulan ke depan. Adapun kebutuhan konsumsi bawang putih nasional mencapai 560.000-850.000 ton per tahun atau sekitar 47.000 ton per bulan.