Peralihan sentimen pelaku pasar terlihat terjadi dalam menjalani sesi perdagangan pagi hari keempat pekan ini, Kamis (13/2).  Setelah sebelumnya pelaku pasar  sempat berupaya bertahan dengan sikap optimis dengan bekal sesi perdagangan di Wall Street, laporan terkini dari China membuat sentimen dari Wall Street tersebut tertepis.

Klaim pemerintah China menyangkut persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus yang menunjukkan mulai melambatnya angka kasus infeksi, sebelumnya telah berhasil membuat indeks Wall Street melonjak. Namun laporan terkini berikutnya membuat klaim positif tersebut mulai termentahkan.

Laporan terkini dari Propinsi Hubei, China menunjukkan, korban tewas yang kembali bertambah dalam jumlah tertingginya untuk hari ini akibat infeksi Coronavirus.

Sentimen akhirnya cenderung beralih pesimis  hingga meruntuhkan indeks di sejumlah bursa saham Asia. Hingga sesi perdagangan sore berakhir,  indeks Nikkei (Jepang) terkoreksi moderat 0,14% untuk terhenti di 23.827,73, sementara  indeks Hang Seng (Hong Kong) melemah  0,34% untuk berakhir di  27.730,0.

Gerak positif masih bertahan pada  indeks ASX 200 (Australia) menguat tipis 0,21% untuk menutup sesi di  7.103,2, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang turun 0,24% untuk singgah di  2.232,96.

Kecenderungan untuk  beralih ke sikap pesimis di Asia tersebut kemudian semakin mengukuhkan tekanan jual di bursa efek Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya konsisten menapak zona merah dan menutup sesi hari ini dengan merosot 0,69% untuk parkir di 5.871,95.  

Gerak runtuh IHSG lebih jauh kali ini semakin suram dengan laporan dari pasar valuta, di mana nilai tukar Rupiah kembali amblas  untuk kini bertengger di kisaran Rp13.700 per Dolar AS.