Meski sudah berungkali diingatkan, Presiden Jokowi menilai kemudahan membuka usaha di Indonesia masih terlalu ruwet. Prosedurnya terlalu panjang hingga membutuhkan waktu yang sangat lama.

Ke depan, Jokowi ingin mengubah keadaan itu. Targetnya, Indonesia harus bisa mengalahkan China.

"Masalah utama yang harus kita benahi adalah prosedur yang ruwet dan waktu yang panjang," ujarnya saat membuka ratas dengan topik Akselerasi Peningkatan Kemudahan Berusaha di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Saat ini, lanjut Jokowi, untuk memulai usaha di Indonesia membutuhkan setidaknya 11 prosedur dengan waktu pengurusan 13 hari. Menurutnya hal itu masih kalah dengan China.

"Kalau kita bandingkan dengan Tiongkok prosedurnya hanya 4 waktunya hanya 9 hari. Artinya kita harus lebih baik dari mereka," ujarnya.

Jokowi menegaskan ingin agar peringkat kemudahan berusaha atau ease of doing business (EoDB) ditingkatkan menjadi posisi ke 40. Dia tak puas dengan peringkat Indonesia saat ini yang berada di posisi ke-73.

Tak kalah penting, Presiden juga meminta agar kemudahan berusaha tidak hanya ditujukan untuk pelaku usaha menengah dan besar saja, tapi juga diutamakan untuk usaha mikro dan usaha kecil.

"Agar fasilitas kemudahan berusaha ini diberikan kemudahan-kemudahan baik dalam penyederhanaan maupun mungkin tidak usah izin tetapi hanya registrasi biasa," pinta Presiden.