Istilah likuefaksi atau likuifaksi pertama sekali populer ketika gempa mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tenggara pada 28 September 2019 lalu. Menurut para ahli, likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah hingga berperilaku seperti cairan akibat guncangan gempa bumi. Pertanyaannya, apakah likuefaksi juga dapat terjadi pada komoditas tambang seperti ore nikel yang sedang diangkut dalam perjalanan kapal kargo?

Jawabannya mustahil. Begitu pendapat ahli pertambangan kepada Bizlaw.id. Dr Simon Sembiring, yang juga pernah menjabat Dirjen Minerba Kementerian ESDM. Ia menjelaskan, ore nikel secara alami tidak mungkin mengandung hingga 30% air. Simon memberi contoh, jika berat ore nikel misalnya 1 ton, maka itu sudah termasuk kandungan air di dalamnya. 

“Jadi logikanya tidak ada penambahan berat karena seolah-olah kandungan airnya berubah menjadi air. Beratnya tetap 1 ton,” urai Simon kepada Bizlaw.id, Senin (27/1/2020).

Kecuali, sambung Simon, ore nikelnya sengaja ditaruh di atas plaka kapal kargo Nur Allya sehingga berpotensi menampung air bila cuaca sedang hujan. “Tentu becek dong, tapi itu namanya kurang kerjaan dan tidak mungkin,” tukas Simon bernada canda.

Pendapat Simon juga dikuatkan Budi Santoso dari Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI). Menurut Budi yang telah puluhan tahun berkecimpung di sektor pertambangan ini, likuefaksi tidak mungkin terjadi jika ore nikel berada di dalam kapal kargo Nur Allya. Sehingga, kata Budi, likuefaksi mustahil bisa menyebabkan Nur Allya bisa tenggelam atau menghilang.

“Likuefaksi bisa terjadi jika kapalnya memang berada di atas ore nikel yang dibawa. Ini kan ore nikelnya yang berada di dalam kapal, sehingga tidak mungkin menyebabkan kapal hilang,” ujar Budi kepada Bizlaw.id, Senin (27/1/2020).

Dipaparkan Budi, likuefaksi terhadap ore nikel di dalam kapal Nur Allya hanya bisa terjadi apabila kohesi tanah tidak ada (nol), dan tidak berlakunya hukum hidrodinamika. “Ini aneh kapal sebesar itu bisa hilang,” tukas dia.

Sebelumnya, berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), MV Nur Allya diduga terbalik dan tenggelam karena proses likuefaksi ore nikel yang diangkutnya. Kapal buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002 tersebut akhirnya dinyatakan kehilangan keseimbangan setelah ore nikel mengalami likuefaksi, yakni fenomena perubahan ore nikel mendadak ke bentuk cairan.

Baca Juga: Situasi Gawat Tanpa Panggilan Darurat

Menurut situs The Maritime Field, bijih nikel diperdagangkan dalam satuan wet metric tonne (wmt). Kandungan air pada setiap bijih nikel bisa mencapai sekitar 30 persen. Sehingga, dalam kargo bijih nikel seberat 55.000 wmt, sekitar 16.000 ton-nya adalah air.

Kandungan air bisa bertambah jika bijih tersebut terpapar hujan atau gelombang lautan. Untuk menghindari kemungkinan itulah bijih nikel biasanya dikapalkan pada musim panas.

Mengaitkan teori likuefaksi dengan kapal milik PT Gurita Lintas Samudera (GLS) ini memang kurang masuk akal. Mengingat kapal tersebut merupakan kapal kargo raksasa dengan kapasitas 52.400 dead weight tonnes (dwt). Kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini bahkan mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton. Sementara saat berlabuh dari Perairan Sagea, kapal Nur Allya yang dengan 25 ABK ini mengangkut ore nikel seberat 51.500 WMT (wet metrik ton).

 

Bersambung