Hilangnya kapal kargo MV Nur Allya sangat menarik perhatian pemangku kepentingan. Hal ini dibuktikan dengan upaya pencarian yang dilakukan secara berulang. Pada upaya pencarian pertama yang diperpanjang dua kali di bawah koordinasi Basarnas dan KNKT, ditemukan sejumlah fakta. Antara lain, penemuan sekoci dan tumpahan minyak. Bahkan lebih dari itu, Basarnas menduga kuat Nur Allya telah tenggelam pada kedalaman 843 meter di bawah permukaan laut di perairan sekitar Desa Fluk, Laut Halmahera.

“Berdasarkan data-data yang ditemukan tim SAR gabungan sejak 27 September hingga 1 Oktober dengan menggunakan alat ping locator dan magnetometer milik KNKT, serta penemuan-penemuan bagian kapal di beberapa lokasi berbeda pada operasi SAR sebelumnya, maka saya selaku SMC menyampaikan bahwa MV Nur Allya tenggelam,” ujar Kepala Kantor Basarnas Ternate yang juga SAR Mission Coordinator (SMC) Muhamad Arafah.

Kepastian itu dikatakan Arafah sebelum dilakukan doa bersama dengan keluarga korban MV Nur Allya di KN SAR Pandudewanata, Jumat (4/10/2019). Tak hanya KNKT dan Basarnas, pencarian hingga berujung pada kepastian tenggelamnya Nur Allya juga didukung tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

“Jadi pada saat itu kita paralelkan antara ping locator dan magnetometer di lokasi hilangnya signal AIS (Automatic Identification System). Proses ini dilakukan tidak hanya satu kali, tapi selama berhari-hari. Meskipun terkendala cuaca yang buruk, namun kita tetap berusaha dan dari kedua alat tersebut dipastikan MV Nur Allya tenggelam di kedalamam 843 meter di bawah permukaan,” kata Bambang, perwakilan dari KNKT.

Namun seperti disinggung sebelumnya, harapan kembali muncul ketika pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi pencarian kedua kalinya pada periode 15 November hingga 21 November 2019. Tim pencarian terdiri dari Basarnas Ternate, KNKT, KSOP Ternate, Lanal Ternate, Ditpolairud Maluku Utara, KN SAR Pandudewanata, Tim Karimun Anugrah Sejati, hingga Tim Mahakarya Geo Survey.

Kali ini, operasi pencarian dilaksanakan dengan bantuan alat Multi Beam Sonar (MBS) di seluruh area yang diduga menjadi posisi terakhir Nur Allya. Hal ini untuk memastikan apakah kapal kargo tersebut betul-betul tenggelam. Tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kapal Nur Allya meski telah dicari menggunakan teknologi MBS.

Baca Juga: Tangisan Sia-sia Keluarga ABK

Lalu, apakah Nur Allya betul-betul tenggelam? Hal inilah yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun berdasarkan dokumen yang diperoleh Bizlaw.id, terdapat sejumlah kejanggalan di balik peristiwa tersebut.

Pertama, saat kapal Nur Allya mengirimkan sinyal AIS terakhir, terdapat 2 kapal lain di sekitarnya. Yakni pada 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT. Saat itu, ada dua kapal yaitu MT Chang Jiang dan KM Tatamailau yang terpantau di sekitar lokasi. Chang Jiang adalah oil tanker berbendera Singapura sementara Tatamailau adalah kapal penumpang berbendera Indonesia.

Kedua kapal ini terpantau dalam kecepatan tinggi. Adapun jarak antara Nur Allya dengan Chang Jian adalah kurang lebih 14,68 NM (nautic mile), sementara jarak Nur Allya dengan KM Tatamailau adalah sekitar 30,96 NM.

Anehnya, pada tanggal 21 Agustus 2019, tidak ada satu kapal pun yang melaporkan adanya distress sinyal ataupun panggilan kedaruratan melalui Radio FM Marine Band di sekitar pantauan lokasi terakhir AIS MV Nur Allya.

Adapun kejanggalan kedua adalah ditemukannya tumpahan minyak yang diduga berasal dari kapal Nur Allya. Sementara menurut data yang diperoleh Bizlaw.id, tumpahan minyak yang ditemukan sudah terdeteksi lebih awal, kurang lebih 23 jam 17 menit dari status terakhir AIS Nur Allya. Dengan kata lain, tumpahan minyak tersebut diduga kuat bukan berasal dari Nur Allya.

Kejanggalan berikutnya adalah reaksi perusahaan/pemilik kapal yang dinilai terlambat melaporkan ke aparat berwenang ketika AIS Nur Allya tidak terdeteksi dalam kurun waktu 1 hari. Selain itu, ABK merupakan kru terlatih dan profesional sehingga sangat memahami teknis meninggalkan kapal bila terjadi situasi gawat-darurat.

Sejumlah kejanggalan ini tentu saja harus diuji kembali. Semata-mata tujuannya untuk mengungkap kejadian sebenarnya secara objektif.

Bersambung