Di acara Hotman Paris Show yang ditayangkan INews TV, 13 November 2019, seorang ibu muda tak kuasa menahan tangisnya. Suara ibu muda itu terpotong-potong saat Hotman menanyakan perihal keluarganya. Dia tampak belum siap menerima takdir karena harus kehilangan suami tercinta. Ibu itu tak sendiri, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Kehilangan anak, keponakan, maupun adik. Harapannya hanya satu: mengetahui kejelasan nasib anggota keluarga mereka.

Namun apa daya, tangisan mereka sejauh ini masih sia-sia. Pencarian kapal karga MV Nur Allya dengan 25 ABK (anak buah kapal) itu tak pernah membuahkan hasil memuaskan. Serba misterius kecuali hanya menemukan sekoci yang diyakini milik Nur Allya.

Apalagi, upaya pencarian Nur Allya yang hilang kontak sejak 23 Agustus 2019 lalu sudah dihentikan. Basarnas terpaksa menutup upaya pencarian setelah 18 hari berjibaku di lautan Halmahera. Termasuk mengerahkan pantauan melalui udara. 

Menurut Kepala Basarnas Ternate, Muhammad Arafah, meski ditutup, namun tim SAR gabungan masih menyiagakan armada serta personel selama 1x24 jam. Basarnas tetap melakukan monitoring aktif dengan menyiagakan armada dan personel. Adapun armada dan personel yang disiagakan berada di dua titik, yakni Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan serta di Kota Ternate.

Arafah mengatakan, sampai hari terakhir pencarian, alat ping locater milik KNKT tak bisa digunakan karena cuaca buruk di lokasi. “Untuk alat ping locater tidak bisa digunakan karena ombak 1-2 meter,” kata Arafah, Selasa (10/09/2019). 

Basarnas juga belum bisa memastikan penyebab hilangnya Nur Allya. Apakah murni karena kecelakaan hingga tenggelam atau kemungkinan lain seperti pembajakan. Proses pencarian yang menemukan adanya sekoci maupun tumpahan minyak (oil spill) belum bisa dijadikan sebagai bukti kuat untuk menyimpulkan bahwa kapal tersebut mengalami kecelakaan.

Dikatakan Kasubdit Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi SAR Basarnas Agus Haryono, status kapal MV Nur Allya masih tetap dalam proses pencarian. “Lifeboat dan tumpahan minyak belum kuat. Memang itu indikasi, tapi itu belum kuat, makanya harus dilakukan pencarian lebih lanjut, termasuk upaya kita dengan KNKT hari ini dengan melakukan pencarian,” kata Agus di Kantor Basarnas Ternate, Maluku Utara, Rabu (4/9/2019).

Baca Juga: Lego Jangkar Terakhir di Perairan Sagea

Harapan kembali muncul ketika pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi pencarian kedua kalinya pada periode 15 November hingga 21 November 2019. Tim pencarian terdiri dari Basarnas Ternate, KNKT, KSOP Ternate, Lanal Ternate, Ditpolairud Maluku Utara, KN SAR Pandudewanata, Tim Karimun Anugrah Sejati, hingga Tim Mahakarya Geo Survey.

Kali ini, operasi pencarian dilaksanakan dengan bantuan alat Multi Beam Sonar (MBS) di seluruh area yang diduga menjadi posisi terakhir Nur Allya. Hal ini untuk memastikan apakah kapal kargo tersebut betul-betul tenggelam. Tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kapal Nur Allya meski telah dicari menggunakan teknologi MBS.

Lantas, bagaimana sebenarnya nasib MV Nur Allya?

Bersambung