Selasa, 20 Agustus 2019 pada pukul 14.15 WIT, kapal kargo MV Nur Allya bergerak meninggalkan pelabuhan muat PT Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) di Perairan Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dibutuhkan waktu selama 14 hari untuk mengisi muatan ke dalam kapal, dimulai dari 5 Agustus hingga 19 Agustus 2019. Pengisian muatan dilakukan tanpa henti, kecuali hujan sedang turun.

Kapal milik PT Gurita Lintas Samudera (GLS) ini merupakan kapal kargo raksasa dengan kapasitas 52.400 dead weight tonnes (dwt). Dengan kata lain, kapal kargo ini mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton. Saat itu, kapal mengangkut ore nickel sebanyak 51.500 WMT (wet metrik ton) dengan tujuan ke Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Jarak total Sagea ke Morosi adalah 688,63 NM (nautical mile). Adapun 1 NM sama dengan 1.852 meter. Dengan kecepatan rata-rata 10 Knots, waktu tempuh Sagea ke Morosi adalah kurang lebih 3 hari, atau diperkirakan tiba di Morosi pada Jumat, 23 Agustus 2019 pada pukul 11.15 WIT. 

Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi. Kapal MV Nur Allya dengan 25 ABK ini dilaporkan hilang Automatic Identification System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis pada Rabu, 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT.

Pencarian Nur Allya kemudian digelar sejak Jumat, 23 Agustus 2019 dengan melibatkan banyak pihak. Antara lain, Basarnas Ternate, Basarnas Ambon, Bakamla, termasuk dari pihak GLS, pemilik kapal Nur Allya. 

Seminggu kemudian, tepatnya Jumat, 30 Agustus 2019, Basarnas menemukan sekoci penyelamat di Pulau Obi, Maluku Utara, yang berjarak sekitar 200 km dari Pelabuhan Weda. Sekoci itu kemudian diidentifikasi sebagai milik MV Nur Allya.

Berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), MV Nur Allya diduga terbalik dan tenggelam karena proses likuefaksi nikcel ore yang diangkutnya. Kapal buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002 ini diduga kuat kehilangan keseimbangan setelah ore nickel mengalami likuefaksi, yakni fenomena perubahan nickel ore dari bentuk padat ke bentuk cairan.

Mengutip situs The Maritime Field, nickel ore yang diperdagangkan dalam satuan WMT (wet metric ton), kandungan air pada setiap bijih nikelnya bisa mencapai 30 persen. Itu berarti muatan nickel ore seberat 51.500 WMT mengandung air sekitar 17.166 ton.

Bersambung