Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta meyakini bahwa mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan mantan Menag Lukman Hakim Saifuddin menerima sejumlah uang dari mantan Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin. Meski begitu, hakim memerintahkan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengembalikan uang yang disita dari ruang kerja Lukman Hakim. Apa alasannya?

Hal itu disampaikan oleh majelis hakim dalam pertimbangan putusan atas terdakwa Romy sapaan akrab Romahurmuziy. Romy merupakan terdakwa kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di Kemenag Jawa Timur.

"Majelis mempertimbangkan bahwa selama proses pemeriksaan di persidangan tidak ada fakta yang menerangkan uang tersebut ada hubungannya dengan perbuatan Terdakwa (Romy) dalam perkara ini," kata hakim Muhammad Idris Muhammad Amin di persidangan, Senin (20/1/2020).

"Maka terhadap uang tersebut harus dikembalikan dari mana barang itu disita kepada saksi Lukman Hakim Saifuddin," tutur hakim Idris.

Sejumlah uang yang dimaksud adalah, satu amplop cokelat dengan tulisan "Sapa Penyuluh Agama Kanwil Kemenag Prov DKI JKT" yang berisi uang Rp 70 juta dalam pecahan Rp 100.000 sebanyak 688 lembar dan uang pecahan Rp 50.000 sebanyak 24 lembar.

Kemudian, amplop cokelat lainnya yang berisikan uang senilai Rp 30 juta dalam pecahan Rp 100.000 sebanyak 300 lembar.

Selanjutnya, amplop cokelat berisi uang senilai Rp 59,7 juta dalam pecahan Rp 100.000 sebanyak 597 lembar.

Selain itu, amplop cokelat berisi uang senilai Rp 30 juta dalam pecahan Rp 100.000 sebanyak 300 lembar.

Kemudian, satu tas tangan berisi 30.000 dollar Amerika Serikat (AS) dalam pecahan 100 dollar AS sebanyak 300 lembar.

Di sisi lain, hakim meyakini bahwa Romy dan Lukman Hakim Saifuddin menerima sejumlah uang dari mantan Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Dalam pertimbangan majelis hakim terkait pasal penyertaan yang dibacakan hakim Rianto Adam Pontoh, Romy menerima uang sebesar Rp 255 juta dan Lukman menerima Rp 70 juta secara bertahap dari Haris Hasanuddin.

"Terdakwa maupun Lukman Hakim Saifuddin kemudian menerima sejumlah uang dari Haris Hasanuddin, penerimaan mana dilakukan dalam masa seleksi Pejabat Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia," kata hakim Rianto saat membacakan pertimbangan majelis di persidangan, Senin (20/1/2020).

"Di mana Terdakwa menerima uang sejumlah Rp 255 juta dan Lukman Hakim Saifuddin sebesar Rp 70 juta yang diterima oleh Lukman Hakim Saifuddin tanggal 1 Maret 2019 sejumlah Rp 50 juta melalui Herry Purwanto selaku Ajudan Lukman Hakim Saifuddin," ucap hakim Rianto.

Menurut hakim, penerimaan itu dimaksudkan agar Romy dan Lukman bekerja sama dan memengaruhi proses seleksi jabatan demi meloloskan Haris sebagai Kakanwil Kemenag Jawa Timur.