SECARA umum, ada lima tahapan dalam kegiatan industri Migas (minyak dan gas bumi), yaitu eksplorasi, produksi, pengolahan, transportasi, dan pemasaran. Lima kegiatan pokok ini terbagi lagi menjadi dua kegiatan, yaitu kegiatan hulu (upstream) dan kegiatan hilir (downstream).

Kegiatan hulu Migas meliputi dua kegiatan utama, yaitu eksplorasi dan produksi. Sementara aktivitas hilir mencakup pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan niaga. Kedua sektor ini diatur dan dilaksanakan oleh dua badan hukum milik negara yaitu BP Migas (sektor hulu), dan BPH Migas (sektor hilir).

Kegiatan hulu Migas memegang peran penting karena merupakan awal dari rantai panjang bisnis Migas. Eksplorasi merupakan tahap awal dari seluruh kegiatan usaha hulu Migas. Kegiatan ini bertujuan mencari cadangan Migas baru. Jika hasil eksplorasi menemukan cadangan Migas cukup ekonomis untuk dikembangkan, kegiatan akan berlanjut dengan aktivitas produksi.

Kegiatan ekplorasi merupakan awal kegiatan dimana perusahaan melakukan aktivitas menemukan cadangan Migas. Diawali dengan survei untuk menemukan hidrokarbon sampai pembuktian cadangan Migas yang ditemukan. Dalam tahap eksplorasi, perusahaan melakukan aktivitas survei geologi, survei geofisika, survei seismik dan melakukan pemboran eksplorasi.

  • Survei Geologi dilakukan untuk menentukan struktur batuan yang dapat menjebak hidrokarbon dengan teknik pemetaan permukaan. Survei ini difokuskan pada batuan yang ada pada permukaan bumi yang merupakan penyusun lapisan atas kerak bumi. Batuan yang diduga mengandung hidrokarbon akan dikirim ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut guna mengetahui kandungan hidrokarbon yang terdapat pada batu tersebut.
  • Survei Geofisika dilakukan guna mencari kandungan hidrokarbon pada lapisan bumi dengan menggunakan peralatan gravimeter dan magnetometer. Alat ini berfungsi untuk membaca besar gravitasi dan medan magnet bumi.
  • Survei seismik dilakukan untuk mencari cekungan yang diduga memiliki kandungan Migas. Survei dilakukan dengan membuat gelombang kejut dan radiasi gelombang yang terekam dengan seismometer. Data yang dihasilkan digunakan untuk menginterpretasikan struktur lapisan tanah, besarnya lokasi dan besarnya reservoir migas yang ada.
  • Setelah survei selesai, mulailah kegiatan pemboran sumur eksplorasi dan well logging untuk mengetahui adanya cadangan Migas di daerah tersebut, dan mengukur tingkat keekonomian cadangan. Pemboran wild-cat, hasilnya adalah konfirmasi adanya hidrokarbon (jenis, besar kandungan), sifat batuan (porositas, permeabilitas, kekuatan), struktur dan keadaan (tekanan dan temperatur) lapisan yang ditembus sumur/ reservoir tersebut. Kegiatan pengeboran ini dapat menentukan luas daerah yang mengandung hidrokarbon
  • Perusahaan kemudian membuat rencana pengembangan lapangan yang terbukti memiliki cadangan Migas yang ekonomis. Rencana pengembangan lapangan Migas tersebut diajukan ke BP Migas dengan menghitung jumlah cadangan, jumlah sumur, produksi perhari dan berapa lama lapangan tersebut berproduksi.

Perusahaan juga mengajukan biaya pengembangan lapangan yang terdiri dari biaya kapital dan biaya operasional. Biaya kapital merupakan biaya yang dikeluarkan untuk investasi yang memiliki manfaat jangka panjang, termasuk biaya infrastruktur dan biaya eksplorasi. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional dan pemeliharaan.

Related image

Proses produksi adalah aktivitas mengangkat kandungan Migas ke permukaan bumi. Setelah rencana kegiatan pengembangan lapangan di setujui BP Migas, perusahaan melanjutkan ke tahap produksi.

Tahap pertama adalah menentukan koordinat sumur yang akan di bor dan kemudian melakukan pengeboran. Biaya yang termasuk dalam aktivitas pengeboran ini, diantaranya biaya sewa rig, mud, testing, cementing dan biaya pendukung lainnya. Supaya efisien, dalam proses produksi disampaikan data dan informasi lebih lengkap sehingga peta cadangan dapat direvisi setiap tahun dengan tingkat keakurasian makin tinggi.

Proses produksi dapat terbagi menjadi:

  • Primary recovery, berupa pengangkatan alami (natural flow) atau pengangkatan buatan (artificial lift) dengan pompa angguk (sucker-rod), pompa listrik terendam (ESP – electrical submersible pump), pompa hidrolik, dan gas-lift.
  • Secondary recovery (SecRec). Disebut SecRec apabila ada sumur produksi dan injeksi yang membentuk pola pendesakan migas.
  • Enhanced oil recovery (EOR). Disebut EOR apabila terjadi reaksi kimiawi yang mengubah interaksi batuan dan fluida reservoir.
  • Migas atau hidrokarbon yang telah diproduksi ada yang langsung diekspor ke luar negeri, dan ada pula yang diolah lebih dahulu.

Secara umum, kegiatan usaha hilir migas yaitu:

1. Pengolahan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-bagian, memertinggi mutu, memertinggi nilai tambah Migas, tetapi tidak termasuk pengolahan lapangan. Pengolahan Migas dilakukan pada refineries atau kilang minyak. Pengolahan terdiri dari dua jenis proses utama, yaitu proses primer dan proses sekunder. Pemisahan proses sekunder bekerja berdasarkan sifat kimia, seperti perengkahan atau pemecahan maupun konversi, dimana didalamnya terjadi proses perubahan struktur kimia minyak bumi tersebut.

Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik, dan Kolom Distilasi Vacuum. Di kedua unit proses ini, minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu gas, distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak tanah, minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu.

Pemisahan fraksi tersebut didasarkan pada titik didihnya. Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m). Di dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida panas yang menguap ke atas.

Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul di bagian-bagian kolom lebih atas. Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti Fluid Catalytic Cracker.

  • A.Minyak bensin (gasoline), yang merupakan produk terpenting dan terbesar dari kilang minyak
  • B. Minyak tanah (kerosene)
  • C. LPG (Liquified Petroleum Gas)
  • D. Minyak distilat (distillate fuel)
  • E. Minyak residu (residual fuel)
  • F. Kokas (coke) dan aspal
  • G. Bahan-bahan kimia pelarut (solvent)
  • F. Bahan baku petrokimia
  • G. Minyak pelumas

Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak yang hampir seluruhnya dioperasikan oleh Pertamina, antara lain: Pangkalan Brandan, Sumatera Utara; Dumai/Sei Pakning, Riau; Plaju, Sumatera Selatan; Cilacap, Jawa Tengah; Balikpapan, Kalimantan Timur; Balongan, Jawa Barat; Cepu, Jawa Tengah; dan Sorong, Irian Jaya Barat.

2. Pengangkutan/distribusi adalah kegiatan pemindahan Migas dan hasil olahannya dari wilayah kerja atau dari tempat penampungan dan pengolahan, termasuk pengangkutan gas bumi melalui pipa transmisi dan distribusi, ke user langsung (industri), instalasi atau depot, ataupun SPBU dan SPBG. Migas dan hasil olahannya tersebut dibawa dengan rail tank wagon, pipeline, kapal tanker, maupun truk pengangkut. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar ekonomis dalam pengangkutan, menyangkut jenis tangki muatan (cargo containment), kapasitas dan jumlah tangki muatan, kondisi lingkungan, jarak dari pemasok, kecepatan pengangkut, boil-off rate (kecepatan boil off gas), keterbatasan operasi, dan peraturan yang ada.

3. Penyimpanan Migas dan hasil olahannya adalah kegiatan penerimaan, pengumpulan, penampungan, dan pengeluaran di atas permukaan, atau di bawah tanah untuk tujuan komersial, misalnya depot dan tangki timbun terapung (floating storage). Usaha penyimpanan BBM maupun gas (LPG, LNG) di Indonesia telah melibatkan peran swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) dalam pembangunannya, untuk mendukung kecukupan suplai kebutuhan BBM mapun gas di tiap wilayah.

4. Perniagaan, adalah kegiatan pembelian, penjualan, ekspor, impor minyak bumi dan/ atau hasil olahannya, termasuk niaga gas bumi melalui pipa. Kegiatan usaha niaga terbagi dua, yaitu pertama, usaha niaga umum (wholesale). Niaga umum adalah suatu kegiatan pembelian, penjualan, ekspor dan impor BBM, bahan bakar gas, bahan bakar lain dan hasil olahan, dalam skala besar. Hanya yang menguasai atau memiliki fasilitas dan sarana niaga, berhak menyalurkan kepada semua pengguna akhir dengan menggunakan merek tertentu.Kedua, usaha niaga terbatas (trading). Usaha ini merupakan usaha penjualan produk-produk niaga Migas yaitu, minyak bumi, BBM, bahan bakar gas, bahan bakar lain, hasil olahan, niaga gas bumi yang tidak memiliki fasilitas, dan niaga terbatas LNG. Badan usaha yang memiliki izin usaha niaga, dapat mengangkut, menyimpan produk niaga Migas tersebut sebagai penunjang usaha niaganya sepanjang tidak ada transaksi usaha pada rangkaian kegiatan usaha niaganya.

Image result for financial business hd

Proses bisnis yang panjang

Proses bisnis yang panjang, yang melibatkan banyak modal, sarat dengan peraturan, terikat dengan aspek teknis, tahapan yang kompleks, serta melibatkan banyak stakeholders ini kata Friedrichs, menjadikan proses bisnis Migas berpotensi menjadi tempat terjadinya tindak pidana (criminogenic environment).

Menurut Ruddell, ada tiga tipe tindak pidana dalam bisnis proses indusri minyak yaitu:

  1. Tindak pidana keuangan (financial crimes).
  2. Pelanggaran terkait kesehatan dan keselamatan kerja.
  3. Tindak pidana lingkungan hidup.

Mengacu pada Pickett dan Pickett, financial crimes didefinisikan sebagai tipu muslihat untuk memperoleh keuntungan. Melanggar kepercayaan, menyembunyikan sifat sebenarnya dari kegiatan tersebut.

Beberapa ciri umum kejahatan keuangan menurut Pickett dan Pickett antara lain:

  1. Dilakukan dengan cenderung menipu, berbohong, dan memanipulasi kebenaran.
  2. Tidak terjadi karena kesalahan atau kelalaian sederhana, tetapi melibatkan upaya disengaja untuk mendapat keuntungan secara ilegal.
  3. Melibatkan adanya pelanggaran terhadap kepercayaan.
  4. Mengakibatkan kerugian yang bila dibiarkan dapat menggerus sumber daya negara.
  5. Dilakukan dengan tersembunyi, sehingga sulit untuk terdeteksi.
  6. Dilakukan juga oleh orang-orang yang tampak terhormat dan profesional.

Friedrichs, mendefinisikan kejahatan keuangan sebagai aktifitas ilegal dan merugikan yang didorong faktor keuangan, dilakukan dalam konteks pekerjaan yang sah dan terhormat. Ruddell menambahkan, umumnya kejahatan ini dilakukan oleh individu untuk kepentingan dan manfaat bagi dirinya sendiri saat melakukan pekerjaannya.

Beberapa bentuk dari kejahatan ini terlihat sangat canggih, biasanya dilakukan oleh orang yang berpendidikan, bergaji tinggi, dan memegang kepercayaan. Dalam praktiknya modus operandi financial crimes sangat beragam, Pickett dan Pickett mengidentifikasi aktifitas yang umum terjadi, antara lain:

  • Penipuan terhadap konsumen. Upaya memaksa konsumen membayar barang yang tidak diterima atau barang di bawah standar, atau tidak seperti yang ditentukan.
  • Kickbacks. Umumnya melibatkan karyawan yang memiliki pengaruh agar mendapat kontrak tertentu, atau yang dapat membantu calon kontraktor. Uang kickbacks umumnya diberikan setelah kontrak diperoleh oleh kontraktor.
  • Bid rigging. Menyediakan informasi tertentu terkait suatu project kepada salah satu calon kontraktor, sehingga dapat membuat tawaran yang paling rendah dibandingkan calon kontraktor lain.
  • Inflated invoices. Membuat tagihan kepada pihak lain, umumnya konsumen, namun tanpa persetujuan atau jumlahnya melebihi dari yang seharusnya.
  • Inventory theft. Mencuri barang milik perusahaan yang disimpan di gudang.
  • Memalsukan biaya perjalanan dinas.
  • Ghost employees. Memasukan nama fiktif dalam daftar karyawan.

Pickett dan Pickett juga menjelaskan bahwa beragamnya bentuk financial crimes, dikarenakan pelaku berasal dari dalam atau luar organisasi, dan berada pada beragam lapis struktur organisasi, seperti ditunjukkan dalam diagram berikut:

Tipe tindak pidana kedua dalam bisnis proses indusri minyak seperti disampaikan Ruddel sebelumnya adalah mengenai pengabaian kesehatan dan keselamatan kerja.

Pada simpul bisnis proses tertentu, pekerja Migas menurut Friedrichs, sering dihadapkan pada bahaya. Ruddell menjelaskan, bekerja di industri Migas adalah pekerjaan paling berbahaya. Pekerja rentan terpapar bahan kimia beracun. Namun, para pekerja umumnya tidak memiliki pengetahuan dan kekuatan untuk membuat alternatif pilihan, atau mengubah, mengendalikan kondisi kerja yang berbahaya.

Kesadaran ini memunculkan banyak kebijakan yang dibuat negara yang meletakkan kewajiban bagi perusahaan untuk dapat menjamin kesehatan dan keselamatan kerja. Kewajiban ini tampak dipatuhi dan dilaksanakan oleh perusahaan. Namun sayangnya perusahaan gagal mematuhi peraturan kesehatan dan keselamatan kerja untuk melindungi pekerja.

Perusahaan tampaknya memiliki hitungan cost-benefit analysis sendiri dalam mengurangi terjadinya ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.

Image result for financial crimes hd

Dalam pandangan Friedrichs, perusahaan cenderung mengabaikan ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang bersifat long-term atau latent injuries.

Hal lainnya, perusahaan cenderung menerima level resiko yang lebih tinggi kepada karyawan daripada masyarakat umum karena kecelakaan yang melibatkan masyarakat lebih mungkin akan menjadi perhatian media. Namun tetap saja perusahaan berupaya untuk menekan biaya.

Sepengamatan Ruddell, beberapa modus operandi pelanggaran terhadap kesehatan dan keselamatan kerja antara lain:

  1. Tidak memasilitasi sarana dan prasarana kesehatan, serta keselamatan kerja yang memadai.
  2. Tidak mengembangkan dan memperkuat safety cultures.
  3. Memanipulasi injury rates

Perusahaan juga sering kali menyalahgunakan safety bonus yang mengakibatkan pegawai enggan melaporkan insiden kesehatan dan keselamatan kerja. Pekerja yang memersoalkan kesehatan dan keselamatan kerja dianggap mengganggu proses produksi, trouble-makers, diancam kehilangan insentif, bahkan sering kali mendapat tekanan dari peer group sesama pekerja.

Kejahatan lingkungan

Menyinggung soal kejahatan lingkungan pada industri Migas Ruddell menjelaskan, kejahatan lingkungan adalah tindakan yang secara langsung merusak lingkungan. Kerusakan lingkungan terjadi karena pelanggaran terkait dengan industri ekstraksi sumber daya, termasuk pembuangan secara ilegal limbah industri, dengan sengaja melepaskan bahan kimia beracun ke udara, air, atau tanah, serta gagal memulihkan situs kerja dengan benar setelah akhir kegiatan ekstraksi.

Ruddel berpendapat, persepsi dampak lingkungan sebagai kejahatan tampaknya tergantung pada manfaat ekonomis dan kedekatan dengan proses bisnis Migas, sementara di sisi lain, sebagian besar masyarakat umumnya tidak menyadari perubahan lingkungan yang membahayakan kehidupan sebagai dampak proses bisnis Migas.

Ruddell menyebutkan, perusahaan pertambangan atau ekstraksi energi, tampaknya dengan sengaja mengabaikan undang-undang lingkungan. Praktik praktik yang dilakukan selama ini, sebagian telah menyebabkan bahaya lingkungan yang serius.

Related image

Kegiatan ekstraksi Migas dapat mengurangi kualitas hidup manusia. Polusi air, udara, dan kebisingan juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan kesejahteraan. Bahan kimia dari air limbah hasil kegiatan fracking dan produksi energi konvensional mungkin juga berakhir di makanan atau air minum. Terakhir, pembakaran gas alam mungkin berkontribusi terhadap perubahan iklim dan mengarah pada polusi cahaya.

Terdapat sejumlah efek samping yang terkait dengan pengembangan sumber daya konvensional (minyak, gas dan pertambangan), termasuk didalamnya polusi udara, cahaya, kebisingan, dan air. Fracking dalam proses pengeboran Migas menurut Ruddell, juga menghasilkan serangkaian dampak lingkungan dan dipercaya terkait dengan terjadinya peningkatan jumlah gempa bumi. Fracking juga menghasilkan efek kerusakan lingkungan jangka panjang yang lebih parah, mengingat terdapat proses membuang bahan kimia yang digunakan dalam pengeboran minyak dan gas.

Beberapa ilmuwan berpendapat, ada hubungan langsung antara kelebihan gas alam di lokasi pengeboran dan perubahan iklim. Kelebihan gas alam yang dilepaskan langsung ke lingkungan atau dibakar, dipandang berpengaruh terhadap terjadinya perubahan iklim. Hal ini dilatari ketidakmampuan produsen membangun jalur pipa yang dapat menampung kelebihan gas ini.

Efek samping lain dari ekstraksi minyak dan gas adalah tumpahan air limbah, termasuk minyak yang mencemari saluran air dengan bahan kimia beracun. Hal ini tentu saja berdampak buruk bagi lingkungan dalam jangka panjang.

Image result for migas hd

Masalah lain yang juga muncul adalah pengelolaan limbah. Beberapa limbah beracun dibuang secara ilegal oleh orang atau perusahaan yang sebenarnya telah dikontrak dan dibayar untuk melakukan pengolahan limbah dengan tepat dan legal. Ada pula beberapa perusahaan yang memang dengan sengaja membuang limbah mereka secara ilegal.

Beberapa contoh kasus di antaranya adalah:

  • PT Chevron Pasific Indonesia di Blok Rokan wilayah operasi Kabupaten Kampar yang mengacu hasil pengawasan 18 Januari 2018. Meski dikenai sanksi administrasi, Chevron belum melaksanakan kewajibannya.
  • PT Pertamina EP di Lapangan Sanga-Sanga Kalimantan Timur, Tanjung, Tarakan, Bunyu, Cepu. Dari sejumlah nama tersebut, hanya Sanga-Sanga, Tarakan, dan Bunyu yang sudah memenuhi sanksi. Tanjung, dan Cepu masih proses pemberian sanksi.
  • Total E&P Indonesia/ PT Pertamina Hulu Mahakam di Lapangan CPA, Senipah, CPU, SPU dan NPU Kalimantan Timur. Tanggal 24 Februari 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan pengawasan, dan menyampaikan surat teguran.
  • Exxon Mobil Indonesia di Jawa Timur. Tanggal 10 November 2018, KLHK melakukan pengawasan. Hasilnya, memberi sanksi administrasi.

Dari hulu hingga hilir

Kegiatan ilegal di sektor Migas bisa terjadi dari hulu sampai hilir. Bukan hanya sekedar menyangkut ekspor dan impor, melainkan pelbagai kejahatan seperti drilling (pengeboran), penimbunan, pengangkutan, distribusi, serta realitas adanya penyelundupan bahan bakar solar ke luar negeri melalui kapal-kapal tanker.

Beberapa kasus (dalam 1 tahun terakhir) yang terjadi antara lain:

  1. Eksploitasi minyak dan gas tanpa izin.
  2. Tanker “kencing” ke kapal lain sebelum mengisi ke depo.
  3. Kapal menjual sisa BBM (perniagaan BBM tanpa izin).
  4. SPBU menjual ke industri atau mengurangi takaran.
  5. Truk tangki “kencing” dalam perjalanan ke SPBU.
  6. Konsumen membeli dengan jirigen dan dijual eceran.

Secara kuantitatif, dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: