Riuh soal munculnya Kerajaan Agung Sejagat di Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir, terlihat mulai mendapatkan perhatian publik. Respon yang beragam bermunculan menyangkut kerajaan yang mengklaim sebagai paling berkuasa di dunia itu dan meminta Amerika Serikat menyerahkan Pentagon.

Tentu banyak yang menilai kabar ini sebagai sensasi, ketimbang berita serius. Namun berkebalikan dengan kabar di pasar valuta, di mana gerak nilai tukar mata uang Rupiah yang kembali mampu  melesat tajam di sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (14/1) tanpa berbekal sensasi.

Pantauan menunjukkan, Rupiah yang bertengger di kisaran Rp13.675 per DolarAS setelah melesat 0,21%. Lonjakan tajam Rupiah kali ini merupakan yang kesekian kalinya hingga membuat Dolar AS harus tenggelam di bawah level Rp14.000-an dalam waktu cukup panjang.

Sentimen dari  kesepakatan dagang tahap pertama AS-China masih menjadi andalan bagi Rupiah untuk menaklukkan Dolar AS. Kabar terkini dari sentimen tersebut menyatakan,   Washington yang menghapus China dari daftar negara yang dituding melakukan manipulasi nilai tukar mata uang.

Kabar tersebut sekaligus kian membuka keyakinan  bahwa kesepakatan dagang tahap pertama AS-China sekedar menunggu waktu untuk disegel Rabu besok (15/1).

Optimisme akhirnya bertahan di Asia, di mana terlihat dari gerak indeks yang cenderung  mampu bertahan di zona positif. Hingga sesi perdagangan sore ini ditutup,  indeks Nikkei (Jepang) terpantau melonjak 0,73% untuk menutup sesi di  24.025,17.

Sedangkan  indeks Hang Seng (Hong Kong) melemah moderat  0,24% untuk berakhir  di 28.885,14, indeks ASX 200 (Australia) melonjak 0,85% untuk  terhenti di 6.962,2, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang naik 0,43% untuk singgah di 2.238,88.

Pada bursa saham Indonesia, gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) terlihat mencoba bertahan di zona hijau. IHSG akhirnya menutup sesi dengan naik moderat 0,45% untuk parkir di 6.325,41.