Sentimen dari kesepakatan dagang tahap pertama AS-China terlihat masih menjadi latar utama gerak menguat nilai tukar mata uang Rupiah. Laporan dari sesi perdagangan  awal pekan kemarin, Senin (13/1) menunjukkan, nilai tukar mata uang Rupiah yang terhenti di kisaran Rp13.704 per Dolar AS setelah sempat mengandaskan Dilar AS di kisaran Rp13.670.

Pelaku pasar masih mengandalksan sentimen kesepakatan dagang tahap pertama AS-China yang diagendakan untuk disegel pada Rabu (15/1) besok.  Kesepakatan dagang yang lebih besar dilahirkan oleh ulah dan kebijakan Presiden AS Donald Trump tersebut  akhirnya memberikan sokongan berharga bagi Rupiah untuk semakin meninggalkan level psikologisnya di kisaran Rp14.000 per Dolar AS.

Kesediaan China  untuk menyegel kesepakatan tersebut akibat tekanan Trump akhirnya menjadikan Rupiah semakin ganas untuk menundukkan Dolar AS.  Catatan menunjukkan, dalam dua hari sesi perdagangan terakhir Rupiah yang telah dengan sangat mengesankan mampu menahbiskan diri sebagai mata uang dengan kinerja penguatan tertajam dibanding seluruh mata uang Asia.

Tinjauan teknikal terkini juga menmperlihatkan, akibat dari gerak menguat Rupiah yang konsisten dan signifikan dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir telah membuat tren penguatan jangka menengah yang kembali solid.

Situasi teknikal demikian sekaligus mengindikasikan prospek penguatan lebih lanjut bagi Rupiah dalam beberapa hari sesi perdagangan ke depan. Sentimen dari Trump-China, dengan demikian telah berhasil memberikan suntikan energi bagi Rupiah untuk mengganas.