Laporan dari sesi perdagangan awal pekan ini, Senin (13/1) terlihat diwarnai dengan gerak kontras antara bursa efek Indonesia dengan nilai tukar mata uang Rupiah. Sementara mata uang Rupiah secara mengejutkan kembali mampu membukukan lonjakan fantastis untuk sekaligus memimpin pasar Asia, gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) justru terlihat masih lesu.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, pelaku pasar yang dalam menjalani sesi kali ini mendapatkan bekal optimisme dari kesepakatan dagang AS-China yang akan segera disegel Rabu (15/1) lusa.

Sementara di tengah sentimen optimis tersebut kabar kurang menguntungkan datang dari Taiwan dan Iran.  Seperti diwartakan sebelumnya, peluang meningkatnya ketegangan Beijing-Taipei  oleh hasil pemilihan umum di Taiwan yang memenangkan Presiden Tsai Ing Wen di pemilihan umum akhir pekan lalu.

Sementara aksi protes yang mulai tumbuh di Iran juga menyita perhatian investor.  Secara keseluruhan, sikap optimis investor terlihat masih berupaya bertahan, namun tekanan jual moderat terlihat sulit dielakkan.

Hingga sesi perdagangan sore ditutup,  indeks ASX 200 (Australia) merosot  0,37% untuk berakhir di posisi 6.903,7, indeks Hang Seng (Hong Kong) melonjak  1,11% untuk terhenti di 28.954,94, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang melambung  1,04% untuk parkir  di 2.229,26.

Gerak lesu terjadi di Jakarta, di mana IHSG hanya membukukan penguatan  0,34% untuk terhenti di 6.296,57.  Gerak lesu IHSG terlihat sangat kontras dengan kinerja Rupiah, di mana mampu membukukan penguatan sangat tajam 0,98% untuk ditransaksikan di Rp13.675 per Dolar AS.

Gerak menguat Rupiah terlihat seiring dengan kecenderungan yang mendera sejumlah besar mata uang Asia. Namun penguatan fantastis yang dibukukan telah menjadikan Rupiah sebagai jawara di pasar Asia.