Tren penguatan jangka menengah harga minyak dunia terlihat masih bertahan hingga kini.

Persoalan mafia migas tentu saja masih menjadi tantangan berat bagi Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang kini memimpin perusahaan perminyakan negara, Pertamina.  Perdebatan soal mafia migas menjadi semakin menarik ketika Ahok ditunjuk menjadi Komisaris Utama Pertamina.

Kepemimpinan Ahok, telah memantik harapan besar agar perusahaan BUMN yang sangat prestisius itu mampu membukukan kinerja cemerlang sekaligus bersih dari mafia migas. Namun tantangan Ahok yang lebih mendesak kini nampaknya bukan sekedar mafia migas.

Pola teknikal harga minyak dunia, memperlihatkan situasi yang masih rawan untuk terus membukukan lonjakan lebih tinggi yang menakutkan. Grafik harian terkini berikut menunjukkan, tren penguatan jangka menengah yang bertahan meski telah terjadi penurunan curam akhir pekan lalu akibat suramnya pernyataan pemerintah China.

Gerak turun curam hingga hampir 5% di sesi akhir pekan lalu memang dengan signifikan meruntuhkan emosi pelaku pasar, namun situasi teknikal sebagaimana tersaji pada grafik di atas menunjukkan tren penguatan jangka menengah yang masih bertahan. Situasi demikian membuka peluang bagi harga minyak untuk  kembali mendaki dan bahkan mungkin melibas level psikologisnya di $60 per barel.  Apabila pola teknikal ini bertahan dalam jangka waktu lebih panjang, tentu akan menjadi tantangan serius bagi Pertamina untuk mengajukan kenaikkan harga jual BBM yang menakutkan itu.

Sementara posisi terkini harga minyak (untuk jenis WTI0 berada di kisaran $56,1 per barel, dan tren penguatan masih belum juga berakhir, tantangan Ahok di Pertamina nampaknya masih berlangsung muram hingga beberapa hari sesi perdagangan ke depan.