Ancaman sentimen kemarahan China untuk sementara ini diperkirakan berimbas terbatas pada prospek Rupiah.

Kepanikan yang akhirnya mulai tumbuh dalam menutup sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (29/11) di pasar global, tentu akan menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar dalam mempersiapkan jalannya sesi perdagangan pekan depan.

Laporan sebelumnya menyebutkan, kepanikan di sesi akhir pekan ini yang dipicu oleh langkah pemerintah China yang mungkin memberikan rekasi marah yang menakutkan hingga mengancam gagalnya perundingan dagang AS-China menbyegel kesepakatan dagang parsial.

Seperti diwartakan sebelumnya, langkah Presiden AS Donald Trump yang menyetujui dua undang-undang yang mendukung  demkokrasi i Hong Kong, yang kini telah menjadi pusat perhatian investor. Langkah Trump tersebut kini mulai menuai reaksi keras dan marah pemerintah Beijing yang dengan tegas menekankan untuk memberikan balasan.

Meski hingga kini rincian balasan yang akan diambil Beijing masi belum jelas, investor telah mulai menaruh kecurigaan bahwa perundingan dagang AS-China berada dalam ancaman.  Apabila benar ancaman kemarahan China tersebut menjadi kenyataan, tentu pasar global akan memberikan rekasi yang setara. Dan gerak turun indeks di seluruh bursa saham dunia akan menjadi jawaban.

Sentimen amarah China ini sangat mungkin akan bertahan hingga sesi perdagangan pekan depan, dan pasar valuta, di samping juga pasar saham akan turut bergejolak.  Dengan gejolak di pasar valuta yang mungkin hadir, kini menjadi pertanyaan menarik adalah bagaimana dengan prospek Rupiah.

Secara sekilas, Rupiah mestinya juga berada dalam ancaman serius bila kemarahan China benar-benar memukul perundingan dagang. Namun bila dicermati dengan seksama, setidaknya untuk saat ini, ancaman dari sentimen kemarahan China terlihat masih sangat terbatas untuk menekan Rupiah. Hal ini terlihat dari pola gerak indeks Dolar AS, yang  justru menurun di sesi akhir pekan ini untuk berakhir di 98,27.