Realisasi investasi Hyundai Motor di Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu periode 2019-2021 dan selanjutnya 2022-2030.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku bahagia menyaksikan penandatangan Perjanjian Kerja Sama (MoU) antara pemerintah Indonesia yang diwakili Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dengan CEO Hyundai Motor Company, Won Hee Lee, Selasa (26/11).

“Sesuai keinginan pemerintah untuk menjadikan Indonesia bukan hanya pasar tetapi juga basis produksi,” kata Luhut usai mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi pabrik mobil Hyundai seperti dikutip dari laman setkab.go.id.

Menko Maritim dan Investasi itu juga menyampaikan, bahwa rencana investasi sebesar US$ 1,5 miliar atau setara Rp21,8 triliun yang akan dilakukan Hyundai untuk pabrik di Bekasi, Jawa Barat akan berlanjut.

“Kedua belah pihak bersama-sama ingin mengembangkan dan memproduksi kendaraan dengan model baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen Asia dan Australia,” jelas Luhut.

Serap 3.500 Tenaga Kerja

Sementara itu Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia meyakini investasi Hyundai Motor ke Indonesia senilai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21,8 triliun akan memberikan nilai tambah yang besar untuk perekonomian Indonesia.

“Penyerapan 3.500 tenaga kerja dan pengembangan pusat pelatihan, penelitian, dan pengembangan mobil listrik,” kata Bahlil kepada wartawan usai mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi pabrik Hyundai Motor Company, Ulsan, Korea Selatan (Korsel), Selasa (26/11).

Agar manfaat tersebut dapat lebih maksimal, Kepala BKPM akan meminta kepada pihak Hyundai agar dalam berproduksi memaksimalkan penggunaan bahan baku dalam negeri dan bekerja sama dengan pengusaha lokal.

“Seperti menggunakan bahan baterai dari Morowali, ban karet dari dalam negeri, sehingga nantinya semua mobil listrik yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dari dalam negeri,” kata Bahlil.

Realisasi investasi Hyundai Motor di Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu periode 2019-2021 dan selanjutnya 2022-2030.

“Pada tahap pertama, Hyundai akan fokus pada investasi pembuatan pabrik mobil dan akan mengekspor sedikitnya 50 persen dari total fase produksinya. Pada tahap kedua pada pengembangan pabrik mobil listrik, dan 70 persen produksinya akan diekspor,” jelas Bahlil.

Menurut Bahlil, Hyundai akan memulai produksinya pada 2021 dengan kapasitas 70.000 unit–250.000 unit per tahun, termasuk mobil listrik ke depannya.