Pola teknikal pada harga minyak (untuk jenis WTI) menunjukkan peluang besar untuk segera menembus level psikologisnya di kisaran $60 per barel.

Diangkatnya Ahok untuk memimpin perusahaan perminyakan negara oleh pemerintahan Presiden Jokowi, tentu akan memantik harapan besar dari publik. Serangkian isu yang selama ini beredar tentang mafia minyak dan gas diharapkan akan menjadi tantangan pertama yang harus dibersihkan oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Namun tantangan lain yang nampaknya lebih serius dan mendesak sekarang justru datang dari pasar minyak dunia. Laporan terkini yang beredar  menyebutkan, pemerintahan Presiden Vladimir Putin di Rusia yang kemungkinan akan bersiap untuk memperpanjang kerjasama pemangkasan produksi dengan organisasi kartel minyak dunia, OPEC.

Untuk dicatat, Rusia dan OPEC dalam lebih dari setahun terakhir telah berhasil menggalang kerjasama pemangkasan produksi minyak guna mempertahankan harga minyak dari keruntuhan suram.  Namun kerjasama pemangkasan produksi yang berlanjut kali ini, terlihat menjadi berbahaya mengingat pola teknikal yang terbentuk menunjukkan tren penguatan  yang masih bertahan dan telah  berlangsung panjang.  

Langkah Putin untuk memperpanjang kerjasama  dengan OPEC dengan sendirinya membuka lebar peluang harga minyak dunia untuk segera menembus level psikologis pentingnya di kisaran $60 per barel. Sekedar mengingatkan, dalam sesi perdagangan yang baru berakhir beberapa jam lalu, Selasa (26/11) harga minyak untuk jenis WTI ditutup di kisaran $58,53 per barel.

Sementara sentimen perundingan dagang AS-China masih bertahan positif (betapa pun rentannya), sentimen dari kemungkinan Putin-OPEC memangkas produksi minyak akan dengan mudah mengerek harga minyak menembus level $60 per barel.  Terlebih, situasi teknikal terkini memperlihatkan tren penguatan jangka menengah yang masih cukup valid.