Pada periode kedua, Presiden Jokowi menunjuk 14 orang staf khusus. Di mana 7 di antaranya berasal dari kalangan milenial.

Presiden Joko Widodo telah menunjuk 14 staf khusus presiden. Dari 14 orang itu, tujuh berasal dari kalangan anak muda atau milenial.

Soal staf khusus ini diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2012 tentang Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden.

Baca Juga:  Jadi Staf Khusus dan Digaji Rp51 Juta, Putri Tanjung Cs Cuma Perlu Ngantor Minimal 1 Minggu Sekali

Dari beleid itu disebutkan, staf khusus presiden terdiri atas: Sekretaris Pribadi Presiden; Juru Bicara Presiden; Bidang Hubungan Internasional; Bidang Informasi/Public Relation; Bidang Komunikasi Politik; Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Selain itu ada juga staf khusus: Bidang Komunikasi Sosial; Bidang Pangan dan Energi; Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah; Bidang Perubahan Iklim; Bidang Publikasi dan Dokumentasi; Bidang Bantuan Sosial dan Bencana; Bidang Administrasi dan Keuangan; Bidang Ekonomi dan Pembangunan.

Kemudian pada Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Perpres Nomor 17 Tahun 2012 tentang Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden, disebutkan bahwa staf khusus presiden terdiri dari paling banyak 15 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk sekretaris pribadi presiden.

Nah, apa perbedaan Staf Khusus Presiden era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dua periode (2004-2009 dan 2009-2014) dengan era Presiden Jokowi yang juga dua periode (2014-2019 dan 2019-2024)?       

Era SBY, periode 2004–2009 ada dua perwira tinggi (Pati) TNI yakni Brigjen TNI Kurdi Mustofa sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Sosial dan Brigjen TNI R Ediwan Prabowo (Sekretaris Pribadi Presiden). Kemudian, jumlahnya juga cuma delapan orang Staf Khusus Presiden.

Berikut Staf Khusus Presiden periode pertama SBY;

1, Andi Mallarangeng (Bidang Hubungan Dalam Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Dalam Negeri)
2. Dino Patti Djalal (Bidang Hubungan Luar Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Luar Negeri)
3. Sardan Marbun (Bidang Pemberantasan KKN), Denny Indrayana (Staf Khusus Presiden Bidang Hukum).
4. Heru Lelono (Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi dan Pemerintahan Daerah)
5. Brigjen TNI Kurdi Mustofa (Bidang Komunikasi Sosial)
6. Brigjen TNI R Ediwan Prabowo (Sekretaris Pribadi Presiden)
7. Irvan Edison (Bidang Pertahanan & Keamanan)
8. Yenny Zannuba Wahid (Bidang Komunikasi Politik); Mengundurkan diri 2007, digantikan oleh M. Djali Yusuf.       

Pada periode kedua, SBY mempertahankan beberapa staf khususnya dan mengganti serta menambah beberapa posisi baru. Selain itu, SBY juga membentuk Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

Ini daftar Staf Khusus Presiden SBY periode 2009-2014;

1. Dino Patti Djalal (Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Luar Negeri); sampai tahun 2010, kemudian menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010-2013), dan Wakil Menteri Luar Negeri (2014)
2. Julian Aldrin Pasha, (Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Dalam Negeri merangkap Juru Bicara Presiden); Menggantikan Andi Mallarangeng yang menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu II
3. Ahmad Yani Basuki (Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi)
4. Velix Wanggai, (Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah / Papua)
5. Andi Arief, (Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam)
6. Jusuf Wangkar, (Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi); Mengundurkan diri tahun 2013, digantikan Hariyanto (sebelumnya Wakil Sekretaris Pribadi)
7. Daniel Theodore Sparringa (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik)
8. Sardan Marbun (Staf Khusus bidang Komunikasi Sosial)
9. Denny Indrayana (Staf Khusus Presiden bidang Hukum dan Pemberantasan KKN); Sampai 2011, kemudian diangkat menjadi Wakil Menteri Hukum dan HAM. Jabatan Staf Khusus bidang Hukum dihapuskan.
10. Heru Lelono (Staf Khusus bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat)
11. Teuku Faizasyah (Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri); Menggantikan Dino Patti Djalal yang menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat
12. Firmanzah (Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi); Sejak 2012-2014
13. Brigjen Agung Risdhianto (Sekretaris Pribadi Presiden) sampai 2011, digantikan Kolonel Kustanto Widiatmoko
14. Kuntoro Mangkusubroto (Kepala UKP4)        

Bersamaan dengan Masa Bakti Kabinet Periode 2014-2019, Jokowi justru mengurangi jumlah Staf Khusus Presiden dari 13 orang saat era kedua SBY (2009-2014) menjadi 11 orang. Kemudian, Jokowi juga membubarkan UKP4 dan membentuk lembaga Kantor Staf Kepresidenan (lembaga khusus di bawah Presiden, berbeda dengan Staf Khusus).

Berikut daftar Staf Khusus Presiden Jokowi periode 2014-2019;

1. Teten Masduki (sebelumnya pada September 2015 dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, namun pada Januari 2018 kembali lagi menjadi Staf Khusus, Koordinator Staf Ahli)
2. Johan Budi (Bidang Komunikasi & Juru Bicara Presiden)
3. AAGN Ari Dwipayana (Bidang Komunikasi)
4. Sukardi Rinakit (Bidang Politik dan Pers)
5. Lenis Kogoya (Bidang Papua)
6. Gories Mere (Bidang Inteligen dan Keamanan)
7. Diaz Hendropriyono (Bidang Sosial)
8. Siti Ruhaini Dzuhayatin (Bidang Keagamaan Internasional)
9. Abdul Ghofarruzin (Bidang Keagamaan)
10. Ahmad Erani Yustika (Bidang Dana Desa)
11. Adita Irawati (Bidang Komunikasi ke Kementerian dan Lembaga)

Pada periode kedua, Presiden Jokowi menunjuk 14 orang staf khusus. Di mana 7 di antaranya berasal dari kalangan milenial.

Baca Juga:  Jadi Stafsus Jokowi, Putri Tanjung Hingga Angkie Yudistia Bakal Diguyur Gaji Hingga Rp51 Juta

Berikut 14 nama Staf Khusus, Juru Bicara dan Sekretaris Pribadi Presiden periode 2019-2024;

1. Angkie Yudistia, Pendiri Thisable Enterprise
2. Aminuddin Ma’ruf, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Periode 2014-2017
3. Adamas Belva Syah Devara, Pendiri Ruang Guru
4. Ayu Kartika Dewi, Perumus Pergerakan Sabang Merauke
5. Putri Indahsari Tanjung, CEO dan Founder Creativepreneur
6. Andi Taufan Garuda Putra, CEO Amarta
7. Gracia Billy Mambrasar, Pemuda asal Papua yang mendapatkan beasiwa di Universitas Oxford
8. Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, akademisi
9. Sukardi Rinakit, pengamat politik
10. Arif Budimanta, ekonom Megawati Institute
11. Diaz Hendropriyono, Ketua Umum PKPI
12. Dini Shanti Purwono, ahli hukum
13. Fadjroel Rahman, juru bicara
14. Anggit Nugroho, Sekretaris Pribadi Presiden Jokowi.