Pak Penghulu juga hafal jumlah ibu hamil dan jumlah balita di sini

Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti Idawati, mengapresiasi upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di Kute Melayu Gabungan. Diinisiasi oleh Rahmad Riadi selaku Penghulu setempat, Gampong atau Kute kini sangat bersih dan tertata rapi.

Hal tersebut disampaikan Dyah Erti dalam sambutannya saat meresmikan beroperasinya Rumoh Gizi Gampong, di Kute Melayu Gabungan, Kecamatan Babussalam, Kamis.

“Inisiatif dan komitmen Penghulu Kute Melayu gabungan dan dukungan seluruh aparatur kute serta partisipasi masyarakat akan memberi pengaruh positif terhadap suksesnya upaya pencegahan dan penanganan stunting di sini,” ujar Dosen Teknik Arsitektur Unsyiah itu.

Dalam sambutannya, Dyah Erti juga mengapresiasi Penghulu Kute Melayu gabungan yang sangat memahami penyebab, langkah dan upaya yang harus dilakukan terhadap pencegahan dan penanganan stunting.

“Saya salut dengan Pak Rahmad. Pemahamannya terkait stunting dan penanganannya sangat baik. Pak Penghulu juga hafal jumlah ibu hamil dan jumlah balita di sini. Ini membuktikan bahwa Pak Penghulu benar-benar terjun ke masyarakat, sangat positif. Dengan pemahaman yang baik, upaya penanganan stunting akan berjalan sukses,” ujar Dyah Erti.

Dyah Erti juga mengimbau Rahmad terus mengedukasi masyarakat terkait pencegahan stunting dan bagaimana memberikan pelayanan kepada ibu hamil dan balita. 

“Upaya pencegahan stunting harus terus disosialisasikan ke masyarakat, agar upaya kita mencetak generasi yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global dapat terwujud.”

Ibu dari dua orang putra ini menjelaskan bahwa Pemerintah Aceh sangat serius melakukan upaya pencegahan dan penanganan stunting. 

Di awal tahun ini, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, telah menerbitkan Pergub nomor 14 tahun 2019, tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi.

“Salah satu amanah Pergub 14 tahun 2019 adalah pembentukan Rumah Gizi Gampong, tentu hal ini membutuhkan bantuan gampong. Saya mengimbau Pemkab Aceh Tenggara menerbitkan Perbub terkait Rumoh Gizi Gampong. Kami juga mengimbau setiap gampong mengalokasikan dana operasional untuk RGG (Rumoh Gizi Gampong),” katanya.

Dyah Erti meyakini, dengan sinergi semua pihak, maka target pembentukan RGG di seluruh Gampong di Aceh pada tahun 2020 akan tercapai.

“Oleh karena itu, saya menginstruksikan seluruh kader PKK agar terlibat dan mendukung berbagai upaya pencegahan stunting, termasuk berpartisipasi aktif di RGG,” kata Dyah Erti.

Terbentuknya RGG, sambung Dyah Erti, akan mendorong gampong menjadi tangguh dan mampu secara mandiri menangani berbagai hal yang berkaitan dengan penanganan stunting.

“Apa yang saya saksikan di Kute Melayu Gabungan menumbuhkan optimisme. Saya yakin Aceh Tenggara mampu menekan angka kejadian stunting. Pak Rahmad harus terus bergerak dan menjadikan Kute ini sebagai contoh yang baik bagi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanganan stunting di Aceh, bahkan di Indonesia,” sambung Dyah Erti

Sementara itu, Penghulu Kute Melayu Gabungan Rahmad Riadi, dalam laporannya menjelaskan bahwa di Kute yang dipimpinnya terdapat 6 ibu hamil, 35 balita serta ditemukan 1 kejadian stunting.

“Saya bersama aparatur rutin turun ke masyarakat dan mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat agar kejadian stunting tidak terulang. Langkah intervensi terhadap seorang anak kita yang terindikasi stunting itu terus dilakukan. Saya juga mengimbau masyarakat untuk menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran agar tidak terulang lagi,” ujar Rahmad.

Rahmad optimis dengan berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan, maka upaya pencegahan dan penanganan stunting di Kute Melayu Gabungan dapat terwujud.

“Saya optimis, kebersamaan yang telah kami bangun selama ini akan berimbas positif bagi upaya pencegahan stunting di Kute Melayu Gabungan. Terima kasih kepada Ibu Dyah Erti yang telah memilih kute kami sebagai kute pertama dibentuknya RGG di Aceh Tenggara,” pungkas Rahmad.