Persoalan penggusuran ini beberapa kali pernah disinggung Anies Baswedan saat masa kampanye Pilgub 2017

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan dan tempat usaha warga di Jalan Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/11).

Penggusuran dibantu oleh 1.500 personel gabungan polisi, satpol PP, dan petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU).

Sejumlah warga yang digusur menyatakan mendukung Anies Baswedan pada pilkada DKI Jakarta 2017. Warga menaruh harapan kepada Anies agar tidak digusur. Mereka juga menggalang dukungan agar Anies dapat terpilih menjadi gubernur.

Kini, mereka meminta Anies menepati janji kampanye sebelum menjadi gubernur DKI Jakarta. "Kami semua pendukung Anies, tapi kenapa digusur? Katanya dulu tidak ada penggusuran saat kampanye," kata salah seorang warga, Subaidah, Sabtu (16/11/2019), seperti dikutip Antara.

Baca Juga:  Bela Anies Soal Janji Pilkada, Wali Kota Jakut Sebut Korban Gusuran Sunter Bukan Pemilih DKI

Benarkah Anies Baswedan pernah berjanji tidak melakukan penggusuran selama menjabat Gubernur DKI Jakarta?

Dikutip dari berbagai sumber, persoalan penggusuran ini beberapa kali pernah disinggung Anies Baswedan saat masa kampanye Pilgub 2017. Saat itu Anies mengaku memiliki pendekatan baru dalam menata kampung di Jakarta.

Pada 9 Oktober 2016, Anies pernah menyatakan, pendekatan itu tidak sekadar memindahkan warga ke tempat lain, tetapi juga membuat kehidupan warga lebih baik, yakni tempat yang memudahkan warga mengakses pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Saat itu, Anies menyatakan, belum tentu dia tidak akan melakukan penggusuran. "Saya tidak mengatakan bahwa nol, enggak akan ada penggusuran, enggak. Memang ada yang harus pindah karena kepentingan umum yang harus dinomorsatukan," kata Anies di Kampung Magesen, Manggarai, Jakarta Selatan, pada 9 Oktober 2016.

Namun, untuk beberapa kasus, Anies menyatakan bisa dicari solusi terbaik lainnya, selain menggusur.

Selain itu, saat Debat Pilgub 2017, Anies mengatakan, persoalan penggusuran bukan sekadar soal pemukiman, tapi juga soal manusia.

"Di situ ada aspek sosial, aspek kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Karenanya, yang kami lakukan adalah cara modern, yang kuno itu sekadar dipindah. Itu cara kuno," kata Anies saat debat.

Menurut Anies, cara modern yang akan ia lakukan adalah urban renewal atau peremajaan kota, baik itu ditata maupun diperbaiki. "Sel kita saja melakukan renewal. Sel kita ini setiap hari melakukan renewal. Tapi kalau kota seringkali tidak. Begitu tertinggal, terbelakang yang kita lakukan apa? Bersihkan," tutur dia.

Saat kampanye di Kalijodo, Jakarta Utara, pada 15 April 2017, Anies mengkritik penggusuran di kawasan bekas lokalisasi itu. Menurut dia, pemerintah saat itu menggusur Kalijodo dengan sekadar memindahkan warganya.

"Kampung diremajakan, ditata ulang, warganya tetap tinggal di sana, tetapi kampungnya menjadi kampung yang bersih, sehat, baik, dan masing-masing memiliki tempat tinggal," ujar Anies.

Anies juga pernah megritik penggusuran yang dilakukan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kampung Akuarium, Jakarta Utara. Kampung itu digusur pada 11 April 2016. Menurut Anies, pemerintahan sebelumnya hanya sekadar memindahkan warga saja.

Pemprov DKI era Anies mulai membangun tiga blok selter untuk warga Kampung Akuarium pada Januari 2018. Pada April 2018, selter itu rampung dibangun.

Anies juga mengembalikan status kependudukan warga Kampung Akuarium yang sebelumnya digusur. Anies juga akan membangun kembali Kampung Akuarium pada 2020. Kampung Akuarium dibangun melibatkan warga setempat.

Anies berujar, Kampung Akuarium nantinya akan menjadi satu kawasan wisata yang sama dengan Kota Tua.

"Nanti tempat ini benar-benar menjadi semacam kawasan wisata budaya sejarah, dari mulai Masjid Luar Batang, Pelabuhan Sunda Kelapa, kemudian Kampung Akuarium, terus ke bawah sampai ke Kota Tua," ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Visi dan Misi

Dalam memerintah DKI Jakarta, Anies yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno mengusung sejumlah visi dan misi.

"Visinya adalah Jakarta kota maju, lestari dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua," kata Anies di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (15/11).

Anies menjelaskan, inti dari visi mereka tersebut ada tiga hal yakni, keberadaban, keadilan dan kesejahteraan. Keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua warga Jakarta menjadi fondasi penting dalam pembangunan.

"Tidak hanya pembangunan fisik seperti infrastruktur yang megah, namun juga pembangunan manusia yang mencakup segala upaya perubahan positif untuk memperbaiki kualitas pendidikan, kesehatan, rasa aman, kesejahteraan, dan kebahagiaan semua warga," jelas Anies.

Sementara itu, untuk mewujudkan visi Jakarta yang bahagia, Anies menyusun lima misi. Pertama, menjadikan Jakarta kota yang aman, sehat, cerdas, berbudaya.

"Caranya dengan memperkuat nilai-nilai keluarga dan memberikan ruang kreativitas melalui kepemimpinan yang melibatkan, menggerakkan dan memanusiakan," jelas Anies.

Kemudian misi kedua yaitu menjadikan Jakarta kota yang memajukan kesejahteraan umum melalui terciptanya lapangan kerja, kestabilan dan keterjangkauan kebutuhan pokok. Misi ketiga yakni menjadikan Jakarta tempat wahana aparatur negara yang berkarya, mengabdi, melayani, serta menyelesaikan berbagai permasalahan.

"Untuk misi keempat yaitu menjadikan Jakarta kota yang lestari, dengan pembangunan dan tata kehidupan yang memperkuat daya dukung lingkungan dan sosial," ungkap Anies.

Terakhi misi yang diusung Anies Sandi adalah menjadikan Jakarta ibukota yang dinamis sebagai simpul kemajuan Indonesia. "Ini bercirikan keadilan, kebangsaan dan kebhinekaan," tutup dia.