Perlu dilakukan tabayun atas pernyataan Sukmawati tersebut, sesuai SOP yang ditetapkan MUI.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan memberikan tanggapan atas dugaan penistaan agama oleh Sukmawati yang disebut membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Presiden RI pertama, Sukarno.

"Perlu dilakukan klarifikasi dan tabayun atas pernyataan (Sukmawati Soekarnoputri) tersebut, sesuai SOP (standar operasional prosedur) yang ditetapkan MUI," kata Amirsyah, Minggu, (17/11).

Meski begitu, Amirsyah mengatakan menghargai pihak yang melakukan proses hukum karena merupakan hak. Sebelumnya, Sukmawati Soekarnoputri dilaporkan oleh warga bernama Ratih Puspa Nusanti yang merupakan salah anggota Koordinator Bela Islam (Korlabi) ke Polda Metro Jaya pada 15 November lalu. Putri Soekarno itu dianggap telah melecehkan nabi Muhammad SAW karena ucapannya dalam sebuah forum diskusi.

"Atas dasar itu semua pihak berharap Sukmawati tidak membuat pernyataan yang menimbulkan kegaduhan," Amirsyah melanjutkan.

Sukmawati membantah berniat menista Nabi Muhammad SAW. Putri Presiden Soekarno itu mengatakan, ucapannya yang membandingkan Muhammad dengan ayahnya itu dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Saya kan hanya bertanya, konteksnya sama sejarah Indonesia dalam kemerdekaan, masak begitu saja jadi masalah?," ujar Sukmawati kepada Tempo pada Sabtu, 16 November 2019.

Sukmawati telah membantah telah melecehkan nabi umat muslim. Dia berujar, ucapannya dalam forum bertema 'Bangkitkan nasionalisme, bersama kita tangkal radikalisme, dan berantas terorisme' itu bercerita tentang sejarah awal abad ke-20. Saat itu, kata dia, nasionalisme mulai berkembang di tanah air.

Dia mengaku menyampaikan perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan Indonesia. Tujuannya, kata dia, untuk menguji pengetahuan sejarah peserta forum, khususnya kepada generasi muda.

"Siapa yang berjuang, ya pastinya di abad ke-20 nabi kan sudah gak ada," demikian Sukmawati.