Tekanan jual terlihat masih membayangi Rupiah hingga sesi perdagangan sore berlangsung.

Sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (/11) di bursa saham Indonesia akhirnya  diwarnai  gerak sempit  indeks harga saham gabungan (IHSG).  Laporan terkini yang beredar  di pasar menyebutkan, pernyataan atau klaim juru bicara kementerian Luar Negeri China, Gao Feng yang menyebut  bahwa   AS dan China telah mencapai kemajuan dengan sepakat untuk menghapus tarif masuk yang kini berlaku secara simultan dan proporsional.

Feng dalam kesempatan yang sama juga menekankan bahwa AS-China kini telah semakin dekat untuk menyegel kesepakatan dagang parsial tahap pertama.  Namun kabar terkini dari Washington menyebutkan bahwa rencana penghapusan tarif yang mulai menuai tentangan keras di Gedung Putih.

Investor di bursa saham utam Asia aklhirnya semakin jatuh dalam tekanan jual menyusul rilis data perdagangan internasional China yang menurun untuk Oktober lalu. 

Gerak naik indeks akhirnya mulai terkikis dan membuat sejumlah besar bursa jatuh di zona merah. Hingga sesi perdagangan berakhir, indeks Nikkei (Jepang) menguat terbatas 0,26% untuk terhenti  di 23.391,87.

Sementara pada bursa saham Hong Kong, indeks  hang Seng runtuh  0,7% untuk ditutup  di 27.651,14, serta  indeks ASX 200 (Australia) yang turun sangat tipis  0,04% untuk menutup sesi di 6.724,1,  dan   indeks KOSPI (korea Selatan) yang beralih turun 0,33% untuk singgah  di 2.137,23.

Gerak naik juga berhasil dibukukan IHSG dalam menutup pekan ini. IHSG naik moderat 0,2% untuk berakhir di 6.177,99 yang sekaligus gagal menghapus penurunan curam yang dibukukan pada sesi perdagangan kemarin.

Laporan tak jauh berbeda datang dari pasar valuta, di mana nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terlihat masih harus bergulat dengan rentang gerak sempit. Terkini, Rupiah diperdagangkan di Rp14.010 per Dolar AS atau melemah  terbatas 0,14%.