Gerak nilai tukar Rupiah diperkirakan cenderung mengalami tekanan terbatas dalam menutup sesi pekan ini, Jumat (8/11).

Sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (8/11) nampaknya masih akan menjadi panggung bagi sentimen peruundingan dagang AS-China. Laporan terkini yang positif dengan semakin dekatnya AS dan China untuk menyegel kesepakatan dagang parsial, hampir pasti akan sulit lepas dari perhatian pelaku pasar.

Terlebih bagi mata uang Rupiah, di mana pada sesi perdagangan kemarin berhasil membalik pola gerak menuju penguatan setelah sempat menginjak zona pelemahan dengan konsisten.  Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kemudian menutup sesi di Rp13.990 per Dolar AS, seiring dengan penguatan yang mendera hampir seluruh  mata uang Asia.

Adalah pernyataan juru bicara kementerian Luar Negeri China, Gao Feng yang dalam  sebuah kesempatan kemarin mengklaim bahwa   AS dan China telah mencapai kemajuan dengan sepakat untuk menghapus tarif masuk yang kini berlaku secara simultan dan proporsional.

Feng dalam kesempatan yang sama juga menekankan bahwa AS-China kini telah semakin dekat untuk menyegel kesepakatan dagang parsial tahap pertama.

Sentimen tersebut, sebelumnya telah berhasil  melonjakkan indeks Wall street dan harga minyak dunia, namun di sisi lain juga telah menghancurkan harga emas dunia.

Kini, di sesi perdagangan akhir pekan, kabar yang tak terlalu menggembirakan nampaknya akan menghampiri Rupiah. Prospek Rupiah diperkirakan sulit untuk membukukan gerak penguatan lanjutan.

 Hal ini setidaknya terlihat dari posisi indeks Dolar AS yang kembali melonjak untuk kini bertengger di kisaran 98,14.  Terus melonjaknya indeks Dolar, dengan sendirinya akan menjadi tekanan bagi mata uang Rupiah.