Baik IHSG maupun Rupiah terlihat konsisten meniti zona koreksi di sepanjang sesi perdagangan pagi ini, Kamis (7/11).

Sentimen dari ketidakpastian penundaan penandatanganan kesepakatan dagang parsial AS-China oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terlihat masih mendominasi jalannya sesi perdagangan pagi hari keempat pekan ini, Kamis (7/11).  Sebagaimana diperkirakan sebelumnya, keraguan investor telah membuat tekanan jual yang mulai tumbuh untuk menghantarkan indeks di zona koreksi.

Serangkaian laporan sebelumnya menyebutkan, agenda penandatanganan kesepakatan dagang parsial AS-China yang dipastikan tertunda namun belum jelas kapan dan di mana akan dilakukan penandatanganan oleh Trump dan Xi.  Kabar lebih lanjut hanya menyebutkan, penandatanganan yang mungkin akan dilakukan sekitar  awal Desember depan.

Serangkaian laporan terkait sebelumnya menkankan, masih rumitnya perundingan dagang AS-China, di mana pihak Beijing disebutkan semakin mendesak Washington untuk membatalkan  rencana penaikkan tarif masuk.  Desakan Beijing tersebut dilakukan untuk mengimbangi penandatanganan kesepakatan dagang parsial.

Gerak indeks di rentang terbatas akhirnya suklit dielakkan di sesi pagi ini. Hingga sesi perdagangan pagi berakhir di Jakarta,  indeks Nikkei (Jepang) beralih turun 0,07% untuk berada di posisi 23.287,22,  indeks Hang Seng (Hong Kong) melemah  0,34% untuk menyisir posisi 27.595,69, sementara indeks ASX 200 (Australia) melonjak 0,99% untuk menjangkau posisi 6.726,0, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang turun 0,22% untuk menyisir posisi 2.139,5.

Pada bursa saham Indonesia, sentimen karaguan yang mendera Asia akhirnya juga menyeret Indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk ambruk lebih tajam. IHSG menutup sesi pagi ini dengan runtuh 1,32% untuk terhenti di 6.135,32.

Laporan tak jauh berbeda datang dari oasar valuta, dengan Rupiah yang kembali melemah untuk  bertengger di kisaran Rp14.035 per Dolar AS setelah terpangkas 0,18%.