Tingkat persediaan minyak AS dilaporkan melonjak secara mengejutkan hingga 7,9 juta barel pada pekan lalu hingga memantik sentimen suram.

Setelah melakukan gerak naik tajam di sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak dengan cepat berbalik rontok di sesi perdagangan pertengahan pekan ini, Rabu (6/11).  Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu itu, gerak turun terutama dilatari oleh  dua sentimen penting.

Laporan menyebutkan, sentimen dari agenda penandatanganan kesepakatan dagang parsial AS-China  yang dipastikan tertunda namun belum jelas kapan dan di mana akan dilakukan penandatanganan oleh Trump dan Xi.  Kabar lebih lanjut hanya menyebutkan, penandatanganan yang mungkin akan dilakukan sekitar  awal Desember depan.

Serangkaian laporan terkait sebelumnya menkankan, masih rumitnya perundingan dagang AS-China, di mana pihak Beijing disebutkan semakin mendesak Washington untuk membatalkan  rencana penaikkan tarif masuk.  Desakan Beijing tersebut dilakukan untuk mengimbangi penandatanganan kesepakatan dagang parsial.

Sementara sentimen berikutnya datang dari laporan persediaan minyak AS yang melonjak secara mengejutkan. Persediaan minyak AS diklaim  melonjak hingga 7,9 juta barel pada minggu lalu.  Dua sentimen suram yang datang  secara bersamaan ini akhirnya meruntuhkan harga minyak dengan tajam.

Pantauan menunjukkan, harga minyak jenis WTI yang ditutup di kisaran $56,35 per barel atau rontok 1,5%. Namun tinjauan teknikal memperlihatkan, gerak turun tajam harga minyak kali ini tak lebih dari konsekuensi teknikal  yang lumrah dan wajar usai mengalami lonjakan tajam di beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya.