Pelaku pasar di Asia diyakini akan turut terjebak dalam irama keraguan di sesi perdagangan hari keempat pekan ini, Kamis (7/11).

Sesi perdagangan hari keempat pekan ini di Asia, Kamis (7/11) nampaknya masih  sulit untuk menjadi masa gembira. Sentimen terkini dari prospek penandatanganan kesepakatan dagang parsial oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebutkan masih alot.

Serangkaian laporan sebelumnya menyebutkan, agenda penandatanganan kesepakatan tersebut yang dipastikan tertunda namun belum jelas kapan dan di mana akan dilakukan penandatanganan oleh Trump dan Xi.  Kabar lebih lanjut hanya menyebutkan, penandatanganan yang mungkin akan dilakukan sekitar  awal Desember depan.

Serangkaian laporan terkait sebelumnya menkankan, masih rumitnya perundingan dagang AS-China, di mana pihak Beijing disebutkan semakin mendesak Washington untuk membatalkan  rencana penaikkan tarif masuk.  Desakan Beijing tersebut dilakukan untuk mengimbangi penandatanganan kesepakatan dagang parsial.

Rentetan kabar tersebut akhirnya memantik keraguan pelaku pasar dan menilai jalannya perundingan yang masih alot. Trump dan Xi Jinping dinilai semakin rewel untuk segera menyegel kesepakatan yang telah banyak dinantikan investor itu.

Gerak indeks akhirnya kembali terjebak di rentang terbatas sebagai cermin dari keraguan investor, namun cenderung berada dalam tekanan jual. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) melemah 0,07% untuk berada di posisi 23.286,8, sementara indeks ASX 200 (Australia) naik 0,51% untuk menjangkau posisi 6.694,3, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menurun 0,29% untuk menyisir posisi 2.137,95.

Dengan serangkaian bekal sentimen ini, sesi perdagangan saham di bursa  saham Indonesia yang akan dibuka beberapa menit ke depan diyakini akan masih berada dalam tekanan jual setelah melemah signifikan di sesi perdagangan kemarin.