IHSG dan Rupiah terlihat kompak menapak pelemahan di sepanjang sesi pagi ini, Rabu (6/11) secara konsisten.

Sesi perdagangan saham  pagi pertengahan  pekan ini, Rabu (6/11) di bursa saham utama Asia akhirnya semakin memperlihatkan kerawanan. Di tengah upaya pelaku pasar bertahan dengan sikap optimis, tekanan jual terbatas mulai hinggap untuk semakin mengurung gerak indeks di rentang sempit.

Pantauan menunjukkan, pelaku pasar yang masih mencoba bertahan dengan bekal sentimen dari jalannya perundingan dagang AS-China.  Serangkaian laporan terkini  menyebutkan, pihak perunding China yang semakin mendesak Presiden Trump untuk menghapus rencana penaikkan tarif masuk atas produk China sebagai imbalan disegelnya kesepakatan dagang  parsial yang telah dicapai dalam putaran perundingan di Washington beberapa pekan lalu.

Investor kini semakin menaruh perhatian pada perkembangan perundingan dagang AS-China. Secara umum, pelaku pasar masih mengharapkan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan segera mencapai kesepakatan dagang yang penting untuk menghindarkan pukulan lebih buruk pada kinerja perekonomian akibat sengketa dagang.

Gerak indeks akhirnya sulit lepas dari rentang sempit hingga sesi pagi ini berakhir di Jakarta. Indeks Nikkei (Jepang) menguat tipis 0,09% untuk menjejak posisi 23.272,0,  indeks Hang Seng turun tipis  0,08% untuk menyisir posisi 27.661,02, sementara indeks ASX 200 (Australia) terpangkas  0,46% untuk menjngkau posisi 6.666,1, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang turun  tipis 0,02% untuk berada di 2.142,16.

Pada bursa saham Indonesia, Indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya harus meniti zona merah secara konsisten di sepanjang sesi pagi ini. IHSG menutup sesi pagi ini dengan menurun  0,45% untuk singgah di 6.235,44.

Laporan dari pasar valuta juga menunjukkan, gerak nilai tukar Rupiah yang  melemah  0,25% untuk ditransaksikan di Rp14.000 per Dolar AS.  Rupiah terlihat sulit menghindar dari potensi koreksi teknikal di sesi pagi ini.