Secara umum pelaku pasar di Wall Street masih mencoba bertahan dengan sikap optimis.

Sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (5/11) di bursa Wall Street akhirnya ditutup dengan gerak indeks di rentang sempit dan mixed. Di tengah sentimen yang masih bertahan positif, sikap optimis pelaku pasar terlihat mulai kelelahan untuk terus melakukan kasi akumulasi.

Laporan menyebutkan, sentimen dacri jalannya perundingan dagang AS-China yang kembali menjadi andalan investor di sesi kali ini. Laporan terkini dari sentimen tersebut masih berkutat pada upaya perunding China untuk mendesak Washington menghapus sejumlah besar trencana penaikkan tarif masuk atas produk China sebagai imbalan disegelnya kesepakatan dagang parsial yang telah dicapai beberapa pekan lalu di Washington.

Namun tuntutan perunding China tersebut terlihat akan menemui kesulitan di tengah sikap tegas dan keras Presiden AS Donald Trump.  Meski demikian, sentimtimen dagang secara keseluruhan masih positif dengan kabar terkini dari AS menyebutkan bahwa defisit perdagangan AS telah menurun hingga $52,5 miliar dalam 9 bulan pertama tahun ini.

Pelaku  pasar akhirnya masih cenderung bertahan hingga sesi perdagangan ditutup beberdapa jam lalu. Indeks DJIA berhasil kembali menginjak zona hijau dengan naik tipis 0,11% untuk ditutup di 27.492,63 yang sekaligus sebagai titik tertingginya sepanjang sejarah.

Sementara indeks S&P 500 melemah tipis 0,12% untuk terhenti di 3.074,62, serta indeks Nasdaq yang menguat sangat tipis  0,02% untuk terhenti di 8.434,68.

Dengan bekal yang tidak terlalu menguntungkan ini, sesi perdagangan saham di Asia dan Jakarta pada pertengahan pekan ini, Rabu (6/11) diyakini akan cenderung mengalami koreksi teknikal usai membukukan lonjakan signifikan di sesi perdagangan kemarin.