Sentimen dari perundingan dagang AS-China yang semakin positif terus meroketkan harga minyak dunia.

Serangkaian sentimen terkini yang datang dari jalannya perundingan dagang AS-China terlihat telah berimbas ke pasar komoditas penting dan strategis dunia, minyak. Gerak harga minyak dilaporkan kembali melonjak liar di sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (5/11).

Pada sesi perdagangan yang baru ditutup beberapa jam lalu itu, harga minyak untuk jenis WTI  terpantau kembali melompat sebesar 1,2% untuk bertengger  di $57,23 per barel. Laporan dari jalannya sesi perdagangan menyebutkan, pelaku pasar yang terus bersemangat untuk melakukan perburuan, menyusul kabar positif dari perundingan dagang AS-China yang semakin positif.

Laporan yang beredar menunjukkan, pihak China yang telah mengklaim bahwa Washington dan Beijing telah mencapai kesepakatan konsensus, namun di sisi lain Beijing juga disebutkan masih mendesak Presiden Trump untuk menghapus rencana penaikkan tarif masuk atas produk China.  Laporan lebih jauh juga menyatakan, hingga kini masih belum ditentukan tempat di mana akan dilakukan penandatanganan oleh Presiden Trump dan Presiden Xi atas kesepakatan dagang parsial yang telah dicapai.

Sikap optimis pelaku pasar akhirnya semakin kukuh, dan aksi akumulasi pada komoditas minyak berlanjut. Konsekuensinya, lonjakan harga minyak kembali terjadi untuk kini semakin dekat dengan level psikologisnya di $60 per barel.

Bila ‘rukun’ Trump-Xi dalam perundingan dagang kali ini akhirnya benar terwujud, tentu akan semakin melonjakkan harga minyak dunia. Oleh karenanya, pemerintahan Presiden Jokowi di Indonesia mesti berpikir keras mengatasi lonjakan harga minyak yang sangat  mungkin akan membebani perekonomian nasional.